Senin, 11 Mei 2020

Gizi Tepat Kunci Bugar Menjalankan Ibadah Puasa


Gizi Tepat Kunci Bugar Menjalankan Ibadah Puasa





 
Puasa memberikan banyak manfaat baik bagi kesehatan apabila dijalankan dengan tepat. Jika pola makan ketika puasa tidak diatur maka kolesterol tinggi dapat muncul karena saat berbuka membiasakan diri dengan makanan yang mengandung lemak seperti gorengan dan santan (Khomsan, 2005).  Dalam dunia medis, puasa dapat membersihkan toksin dan zat-zat yang menumpuk dalam saluran pencernaan, ginjal, dan organ lain akibat bahan pengawet, zat pewarna, pemanis buatan, zat karsinogenik yang menyebabkan kanker, asap rokok, dan lain-lainnya yang menumpuk bertahun-tahun (Rosita, 2009).
            Aktivitas puasa berarti mengistirahatkan saluran pencernaan. Dalam skala makro, puasa akan berdampak pada sel-sel tubuh, dimana reaksi-reaksi biokimiawi berlangsung. Sewaktu alat pencernaan beristirahat, energi yang dibutuhkan diambil dari cadangan karbohidrat dan timbunan lemak. Tentu hal ini bermanfaat karena makan dan minuman yang berlebihan dapat membahayakan lambung, hati, memberatkan kerja jantung, menyebabkan mengerasnya pembuluh darah, sesak dada, naiknya tekanan darah, dan diabetes mellitus (Hilda, 2014).
            Selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, asupan gizi yang tepat sangat diperlukan. Orang yang berpuasa harus pandai mengatur pola konsumsi pangannya saat sahur, berbuka dan selingan di malam hari. Jangan sampai keseimbangan nutrisi yang masuk dan dibutuhkan tidak terjaga. Oleh sebab itu, gizi yang tepat harus diperhatikan agar tubuh tetap bugar, sehat, dan kuat.
           
Apa saja kebutuhan gizi yang harus dipenuhi saat puasa?

Ada 2 jenis kebutuhan zat gizi yang harus dipenuhi setiap hari bahkan saat puasa kebutuhan gizi ini tidak boleh dilupakan. Zat gizi ini terdiri dari :
            1. Zat Gizi Makro
                        Terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak
            2. Zat Gizi Mikro
                        Terdiri dari vitamin dan berbagai macam mineral.
            Bagaimanakah komposisi makan saat berpuasa yang baik?
            Agar kebutuhan gizi dari zat gizi makro dan mikro terpenuhi, maka pola makan saat puasa harus diatur komposisinya. Komposisi yang baik yakni:
            a. 40% saat sahur yang terdiri dari 30% makan besar dan 10% makan kecil
            b. 50% saat berbuka puasa dengan komposisi 10% makan manis, 30% makan besar, dan 10% makan kecil
            c. 10% makan kecil setelah salat Tarawih
            Lalu makanan apa saja yang dianjurkan dan yang harus dihindari untuk dikonsumsi?
 
 


                                                                                                                

           

Saat sahur dan sahur sebaiknya memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi agar tidak terjadi masalah kesehatan yang tidak diinginkan. Nah, makanan dan minuman yang dianjurkan yaitu :
            1. Berbukalah dengan yang manis seperti kurma, pisang, pepaya, salad, dan smooties.            Hal ini bertujuan untuk mengembalikan kadar glukosa darah. Namun jangan                          berlebihan dalam mengkonsumsinya.
            2. Saat sahur sebaiknya mengkonsumsi sayur dan buah dengan kandungan serat yang            tinggi agar dapat memberikan rasa kenyang yang lama dan tidak cepat lemas.
            3. Konsumsi air putih hangat, madu hangat atau wedang jahe hangat karena baik                     untuk kesehatan.
            Lalu, ada makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi  saat sahur yaitu:
            1. Makanan/ minuman yang terlalu manis karena akan membuat cepat haus dan perut              terasa kembung.
            2. Makanan yang terlalu asin atau pedas karena akan membuat tubuh mengalami                     ketidakseimbangan cairan.
            3. Gorengan karena proses pencernaan gorengan perlu waktu dan energi yang besar                sehingga belum sampai berbuka, tubuh akan terasa lemas.
            4. Kafein (teh kental, kopi) karena terlalu banyak mengkonsumsi kafein saat sahur       akan membuat tubuh dehidrasi dan lesu karena bersifat diuretik.
            5. Hindari makanan olahan atau kalengan, mie instan, dan junk food.
            Nah, apa yang harus dihindari kala berbuka puasa?
 


            Ketika berbuka puasa, perut dalam keadaan kosong. Hal ini menimbulkan keinginan untuk melakukan hal-hal yang seharusnya dihindari, seperti :
            1. Makan berlebihan karena perut lapar. Hal ini harus dihindari karena makan terlalu               banyak dan langsung menyantap makanan besar akan membuat perut kaget dan dapat menyebabkan gastritis.
            2. Kurangi makanan tinggi lemak, tinggi garam, tinggi gula, dan pedas.
            3. Hindari makanan yang mengandung gas agar perut tidak kembung seperti kol, ubi,             singkong, nangka muda, durian, soda, dan tape.
            4. Hindari makanan cepat saji atau junkfood karena konsentrasi serat dan antioksidan              yang rendah sehingga menimbulkan penimbunan lemak dan energi yang terserap  bagi tubuh tidak maksimal.
            Bagaimanakah panduan minum saat puasa?

           







Selain makanan yang harus diperhatikan, kebutuhan air dalam sehari juga harus diperhatikan. Panduan minum yang baik saat puasa yakni :
            a. 1 gelas setelah bangun sahur
            b. 1 gelas setelah makan sahur
            c. 1 gelas saat adzan Maghrib
            d. 1 gelas setelah salat Maghrib
            e. 1 gelas setelah buka puasa
            f. 1 gelas sebelum salat Isya’
            g. 1 gelas setelah salat Tarawih
            h. 1 gelas sebelum tidur
            Dalam menjalankan puasa, kita harus senantiasa memperhatikan pola makan dan minum. Namun jangan lupa untuk melakukan olahraga agar tubuh tetap bugar. Olahraga yang dapat dilakukan seperti jogging, bersepeda, atau aerobik ringan. Hal ini dapat dilakukan setelah salat Shubuh atau menjelang buka puasa. Meski puasa, kita harus tetap produktif. Apabila kita menggunakan waktu hanya untuk tidur maka tubuh malah akan terasa lemas dan hindari untuk tidur sehabis sahur karena dapat mengganggu sistem pencernaan.



Daftar Pustaka
Hilda, Lelya. 2014. Puasa dalam Kajian Islam dan Kesehatan. Vol. 8, No. 1 :53-62.
Khomsan, A. 2005. Dampak Kesehatan Puasa dalam Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. Departemen Gizi Masyarakat. Fakultas Ekologi Manusia. IPB. Bogor.
Rosita, Chairul Hana. 2009. Puasa dan Pengendalian Diri Perspektif Kesehatan Mental. IAIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta.

Senin, 27 April 2020

Peran Gizi dalam Kecantikan

“Nutrition for Your Beauty”


  Dunia kecantikan sedang booming aneka jasa perawatan kecantikan dengan segala embel-embel Spa. Apapun asalkan dengan nama Spa masyarakat berkonotasi sebuah layanan kecantikan dengan kemasan modern, terkini, gaul, dan berkelas serta memiliki daya jual tinggi pada masyarakat yang butuh status dan merupakan lifestyle masyarakat modern. Maka, sudah saatnya Diet Kecantikan merupakan kompetensi baru yang harus dikembangkan dalam kurikulum prodi Gizi. Kompetensi ini sangat dibutuhkan dimasa yang akan datang dan memiliki prospek yang cerah, dengan mengembangkan Spa Cuisine berbasis bahan pangan lokal. Berbagai hasil penelitian tentang proses penuaan dan penyakit-penyakit yang berkaitan menunjukkan adanya berbagai pengetahuan terkait dengan penghambatan proses penuaan serta akibat-akibatnya sampai pada tahap tertentu, diketahuinya berbagai penyakit yang diakibatkan oleh proses penuaan yang tidak diakui dan tidak diobati yang kemudian diakui dan dapat diobati (Carper, 1996:9).

Apa sih kecantikan itu?
         Kecantikan itu terbagi menjadi dua, yaitu: Inner Beauty dan Outer Beauty. Inner Beauty merupakan kecantikan yang muncul dari kepribadian seseorang, sedangkan Outer Beauty merupakan faktor-faktor yang dipengaruhi dari luar (perawatan) yang membuutuhkan support dari status kesehatan yang berkaitan dengan asupan makanan. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kesadaran terhadap kesehatan dan kecantikan juga meningkat. Kesadaran tersebut diikuti dengan pemahaman bahwa sehat merupakan modal untuk menjadi cantik / tampan. Kecantikan / ketampanan berhubungan erat dengan kaitannya proses penuaan. Dari hasil berbagai penelitian mengatakan bahwa penuaan itu tetap berproses tetapi yang bisa dilakukan adalah menghambat proses penuaan tersebut. Salah satu caranya dengan menghambat penuaan dengan mengendalikan proses penyebabnya tadi. Terutama dalam permasalahan kulit. Kulit merupakan organ yang sangat penting karena mempunyai fungsi yang banyak, yaitu: fungsi pertahanan, fungsi  kekebalan tubuh, fungsi sensorik, fungsi endokrin, fungsi termoregulasi, dan fungsi sintesis vitamin D. Berikut struktur kulit manusia.


Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan dini?
          Ada beberapa faktor penuaan yang mungkin tak banyak dari anda yang peduli akan tanda awal proses penuaan hingga sampai pada titik bahwa tanda itu tak lagi bisa dihiraukan saat memasuki usia tiga puluhan, tanpa kita disadari telah terjadi perubahan pada penampilan fisik pria /wanita yang memiliki batasan usia ini tidaklah absolut tapi bersifat relatif dan berbeda-beda pada setiap orang. Ketika remaja, jaringan kulit yang menua bisa berganti cepat dengan yang baru, namun saat menginjak usia tiga puluhan, pergantian jaringan kulit mulai melambat sehingga kelenturan kulit mulai menurun pada usia tersebut. Apalagi di era yang serba modern seperti sekarang ini yang dengan mudah dapat mendeteksi dan mencegah penuaan dini. Berikut ini faktor-faktor yang berperan dalam kesehatan untuk mencegah penuaan :

Kulit dan Aging
          Faktor Kulit yang disebabkan oleh penuaan dini karena disebabkan oleh beberapa faktor meliputi: Percepatan degenerasi sel, Perubahan lingkungan yang terjadi secara global, Polusi udara yang meningkat, Menipisnya lapisan ozon akibat radiasi sinar matahari yang langsung mengena pada kulit manusia. Faktor Aging yang meliputi dua faktor, yaitu:  Faktor internal (keturunan, kesehatan, daya tahan tubuh, dan Psikologis), Faktor eksternal (lingkungan, radikal bebas, pola hidup, asupan makanan, dan aktifitas fisik).


Radiasi UV dan Aging
Faktor Radiasi UV yang disebabkan oleh peningkatan intensitas radiasi UV akibat lamanya beraktifitas di bawah terik sinar matahari secara langsung pun menentukan seberapa parah kerusakan yang akan terjadi pada kulit wajah atau tubuh.

Radikal bebas dan Aging
Sebagai organ paling luar tubuh, kulit langsung terpapar dengan lingkungan prooksidan seperti radiasi ultraviolet, obat, polusi udara, dan asap rokok. Paparan lingkungan ini memicu pembentukan radikal bebas yang disebut juga reactive oxygen spesies (ROS). Radikal bebas dapat menghancurkan molekul dan merusak jaringan kulit, yang menyebabkan hilangnya air dan kerusakan kolagen yang menyebabkan timbulnya kemerahan dan kekeringan pada kulit, hilangnya elastisitas dan kerutan yang akan mempercepat penuaan kulit lebih cepat. Aktivitas radikal bebas memicu reaksi reduksi-oksidasi (redoks) yang berlebihan memicu terjadinya: Nekrosis (Kematian sel) dan Pertumbuhan sel cepat (Tumor dan Kanker).

Bad diet for skin
Rendahnya status gizi dapat mengubah struktur dan fungsi kulit yang bisa mempengaruhi penampilan kulit. Asupan makanan yang berefek buruk pada kulit dapat meningkatkan resiko aging lebih cepat, yaitu: Makanan tinggi gula (karbohidrat sederhana), Kafein, Makanan berlemak, Makanan olahan / instan, dan Makanan tinggi garam.


Bad Lifestyle and skin
          Dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi: Stress, karena dapat meningkatkan produksi minyak sehingga memblokir dan memperlebar pori-pori kulit yang dapat berdampak pada perkembangan bakteri-bakteri. Merokok, dalam suatu Penelitian menyebutkan bahwa merokok dapat merusak kulit.

Apa saja pola hidup yang mendukung Healthy Skin
          Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kesehatan dan kecantikan kulit seseorang, yaitu: Gizi seimbang, Status hidrasi, Istirahat yang cukup, Olahraga, Berpikiran dan Bersikap Positif, serta Antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menetralkan aktivitas radikal bebas, secara alami ada dalam tubuh, namun jumlah sedikit dan seiring dengan bertambahnya usia, jumlahnya semakin berkurang sehingga memerlukan asupan tambahan dari makanan yang dikonsumsi. Antioksidan dapat memecah radikal bebas, menetralisirnya atau meningkatkan regulasi gen yang mengkodekan enzim penetral. Antioksidan telah terbukti mengurangi kerusakan epidermis terkait UVB dan melindungi terhadap apoptosis yang diinduksi UVB. Antioksidan juga meningkatkan ekspresi gen yang terkait dengan replikasi dan perbaikan DNA. Beberapa zat gizi makro dan mikro yang dapat berperan dalam kesehatan kulit adalah sebagai berikut:

Vitamin C
Vitamin C sangat berperan dalam kesehatan kulit karena memiliki banyak fungsi, yaitu: Sebagai antioksidan vitamin C menetralisir ROS yaitu anion superoksida dan radikal hidroksil pada kompartemen aquous pada kulit, Berperan dalam sintesis kolagen dengan cara menghambat biosintesis elastin dan mengurangi akumulasi elastin dengan memainkan peranan penting pada proses penyembuhan luka dan menjaga elastisitas kulit, Berfungsi sebagai efek fotoprotektif terhadap sinar UV (UVA dan UVB). Sumber vitamin C, meliputi: Pepaya, jeruk, blewah, lemon, strawberry, pisang, nanas, jambu biji, asparagus, kale, kembang kol, brokoli, paprika, tomat.


Vitamin A
Vitamin A sangat berperan dalam kesehatan kulit karena memiliki banyak fungsi, yaitu: Sebagai penangkal radikal bebas yang berpotensi merusak jaringan, Sebagai regenerasi jaringan kulit, Sebagai penelitian menyebutkan kekurangan vitamin A menyebabkan kulit menjadi kering, kasar dan mengelupas. Sumber Vitamin A, meliputi: hati ayam, hati sapi, dairy products (susu, keju, mentega), telur, ikan (tuna, sarden, herring).


Vitamin B Kompleks
Vitamin B-Kompleks sangat berperan dalam kesehatan kulit karena memiliki banyak fungsi, yaitu: Berperan dalam menjaga kesehatan kulit dan rambut, Niacin (B3) menjaga kulit tetap lembab dan memiliki efek anti inflamasi. Sumber vitamin B kompleks, meliputi: Sumber Biotin (hati sapi, kedelai dan produk kedelai, telur, polong-polongan, kacang-kacangan, dan salmon), Sumber Niasin : ikan tuna, ikan halibut, daging sapi, daging kalkun, susu, telur, serealia, polong-polongan, dan sayuran).


Karotenoid
Karotenoid sangat berperan dalam kesehatan kulit karena memiliki banyak fungsi, yaitu: Antioksidan sehingga mampu menangkal radikal bebas dan menetralkan lipid peroksidase. Sumber Karotenoid, meliputi: Buah-buahan yang berwarna kuning, orange dan merah (seperti wortel, pepaya, tomat, jeruk, labu, buah persik), dan Sayur-sayuran berwarna hijau (Polong-polongan dan buncis).


Zinc
Zinc sangat berperan dalam kesehatan kulit karena memiliki banyak fungsi, meliputi: Sebagai antioksidan, dan melindungi tubuh dari serangan lipid peroksidase, Memperbaiki kerusakan kulit dan Bermanfaat dalam penyembuhan luka serta dapat memproteksi kulit dari efek negatif sinar UV. Sumber Zinc, meliputi: Seafood (kerang, tiram, kepiting, udang, dll), daging, hati, daging ayam, telur, dairy product (susu, keju), kacang-kacangan, polong-polongan, serealia, buah-buahan, dan sayur-sayuran.


Selenium
Selenium sangat berperan dalam kesehatan kulit karena memiliki banyak fungsi, meliputi: Dapat melindungi kulit dari kerusakan akibat paparan sinar matahari dan berperan dalam perkembangan elastin yang penting untuk struktur kulit. Sumber selenium, meliputi: Gandum, brokoli, bawang, daging, dairy product (susu, keju), ikan cod, dan ikan salmon.


Essential Fatty Acid
Asam lemak esensial sangat berperan dalam kesehatan kulit karena memiliki banyak fungsi, meliputi: Sebagai nutrisi yang berharga bagi kulit, Berperan menjaga (struktur, fleksibilitas, dan fungsi selaput sel), dan Berperan untuk sintesis lipid intraseluler. Sumber asam lemak esensial, meliputi: Omega 3 (hati ikan cod, mackarel, menhaden, dan minyak salmon), Omega 6 (minyak evening primerose, minyak Jagung, minyak biji kapas, kedelai, dan minyak nabati lainnya).


Status Hidrasi
Mengontrol status hidrasi dalam tubuh sangat berperan dalam menjaga kesehatan kulit karena memiliki banyak fungsi, meliputi: Mengonsumsi cairan yang cukup berdampak positif pada kesehatan kulit dan Mengonsumsi cairan yang cukup dapat menjaga elastisitas kulit.

         Jadi peran gizi dalam kecantikan adalah sebagai supporting yang berperan dalam kesehatan kulit. Jika asupan kita optimal maka kesehatan kulit juga terjaga. Berbagai makanan yang mengandung antioksidan yang berperan sebagai anti-aging pada tubuh kita, maka radikal bebas akan banyak ditangkal. Hal ini membuat sel tubuh kita sehat termasuk struktur jaringan kulit seseorang juga sehat dengan demikian asupan nutrisi gizi kita bisa sebagai preventif terhadap aging yang bisa untuk menjaga kecantikan kulit.
         Apa benar suatu makanan dapat memicu timbulnya jerawat? Terkait acne terdapat banyak hal yang mempengaruhi dari segi kebersihan, faktor makanan, atau hormon tubuh. Acne yang berhubungan dengan kurang terjaganya kebersihan yang menyebabkan mikroorganisme bisa menempel dikulit melakukan suatu reaksi, yang membuat peradangan atau inflamasi di folikel pilosebasea yang memerlukan kebersihan dalam merawat kulit terutama bagian wajah, faktor makanan asupan makanan yang tidak seimbang antara Karbohidrat sederhana tinggi dan Lemak tinggi bisa menjadi lingkungan prooksidan yang menjadikan radikal bebas betah berada dikulit kita, yang dapat menimbulkan efek kesehatan sel menurun berdampak pada salah satu acne. Lalu bagaimana dengan penderita albino dengan orang biasa dalam menjaga kulit dan merawatnya? Terkait dengan kondisi albino, dimana kondisi kurangnya pigment kulit dalam tubuh, yaitu: pigmen melanin, sehingga kondisi kulit albino lebih sensitif terutama terkait dengan UV daripada orang berkulit normal.

DAFTAR PUSTAKA
Carper, Jean 1996. Rahasia tetap muda seumur hidup. Jakarta: Gramedia Pustaka.
Benge Sophi, 2003.Terapi Kecantikan. Jakarta: Inovasi.
Blevi Victor, 2002. The Complete Book of beauty. New York: Avon.
Diana Evawati, 2010. Gizi Kecantikan Penghambat Proses Penuaan Dini. Surabaya. Vol. 54.

Selasa, 14 April 2020

Lawan Covid-19 dengan Meningkatkan Sistem Imunitas

Gizi Tepat Agar Imunitas Meningkat


            Secara umum diterima bahwa gizi merupakan salah satu determinan penting respons imunitas. Penelitian epidemiologis dan klinis menunjukkan bahwa kekurangan gizi menghambat respons imunitas dan meningkatkan risiko penyakit infeksi. Sanitasi dan higiene perorangan yang buruk, kepadatan penduduk yang tinggi, kontaminasi pangan dan air, dan pengetahuan gizi yang tidak memadai berkontribusi terhadap kerentanan terkena penyakit infeksi. Berbagai penelitian yang dilakukan selama kurun waktu 35 tahun yang lalu membuktikan bahwa gangguan imunitas adalah suatu faktor antara (intermediate factor) kaitan gizi dengan penyakit infeksi (Chandra, 1997).

Apa sih imunitas itu?
            Imunitas yaitu pertahanan pada organisme untuk melindungi tubuh dari pengaruh biologis luar dengan mengenali dan membunuh patogen. Patogen adalah mikroorganisme yang menyebabkan suatu penyakit pada umumnya dipergunakan untuk organisme (bakteri atau virus) dan produk biologisnya (misalnya toksin), seperti saat ini virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Corona disease-2019 (Covid-19) serta virus influenza yang menyebabkan flu. Sedangkan sistem imun atau sistem kekebalan tubuh adalah sel-sel dan banyak struktur biologis lainnya dalam tubuh manusia yang bertanggung jawab atas imunitas, untuk itu dibutuhkan respon imun yang merupakan reaksi yang terjadi dalam suatu organisme untuk tujuan bertahan melawan patogen. Imunitas tubuh kita diibaratkan tentara, sedangkan di dalam tubuh kita adalah ajudan-ajudannya yang dimana bisa menjaga sel-sel tubuh kita bila ada patogen atau sel-sel merugikan seperti virus dan bakteri. Namun jika tentara kita lengah maka sel-sel itu mudah masuk ke dalam tubuh kita.


Apa saja gizi yang tepat agar imunitas kita meningkat?
            Ada beberapa faktor yang mempengaruhi sistem imun, yaitu asupan makanan bergizi, status gizi, stres, faktor usia, gaya hidup, dan genetik. Jika kurangnya asupan makanan yang bergizi pada tubuh maka akan menghambat respon imunitas dan meningkatkan resiko penyakit. Apalagi pada saat pandemik virus Covid-19 yang membutuhkan imunitas yang tinggi.
Berikut ini zat gizi yang tepat untuk meningkatkan imunitas :

Protein
Protein berfungsi untuk meningkatkan antibodi, berfungsi dalam pembentukan enzim dan hormon, membangun dan memelihara jaringan tubuh. Untuk tubuh manusia sehat hanya memerlukan 15% protein dari kebutuhan energi total harian. Ada beberapa contoh sumber protein:

1. Sumber Protein Hewani


2. Sumber Protein Nabati


Vitamin A
Vitamin A sangat berperan dalam meningkatkan imunitas karena memiliki banyak fungsi, yaitu berperan dalam pemeliharaan sel epitel yang berfungsi pada imunitas non spesifik, meningkatkan respon antibodi, memicu reaksi respon imun saat ditemukan patogen dalam tubuh, dan berfungsi melawan oksidasi. Menurut Angka Kecukupan Gizi Indonesia 2019, kebutuhan vitamin A pada laki-laki 650 RE sedangkan perempuan 600 RE untuk kelompok usia dewasa. Contoh makanan sumber vitamin A yaitu wortel dan pepaya. Jika tubuh kekurangan vitamin A maka sistem kekebalan tubuh akan menurun sehingga mudah terinfeksi.


Vitamin C
Vitamin C berperan sebagai antioksidan tubuh dan dapat meningkatkan sistem imun innate dan adaptif. Kebutuhan vitamin C menurut Angka Kebutuhan Gizi Indonesia 2019 untuk kelompok orang dewasa laki-laki seberat 90 mg sedangkan perempuan 75 mg. Contoh makanan mengandung vitamin c yaitu daun singkong, jeruk, dan jambu biji.

Vitamin E
Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan dan menjaga integritas membran sel yang mempengaruhi fungsi imunitas. Kebutuhan vitamin C harian orang dewasa laki-laki dan perempun sama seberat 15 mg menurut Angka Kebutuhan Gizi Indonesia 2019.  Contoh makanan mengandung vitamin E  terdapat pada kacang-kacangan dan alpukat.

Zink/seng
Zink/seng membantu meningkatkan pertahanan non spesifik dan meningkatkan fungsi sel T dan sel B. Menurut Angka Kecukupan Gizi Indonesia 2019 kebutuhan zink pada laki-laki dewasa seberat 11 mg dan perempuan dewasa seberat 8 mg. Contoh sumber zink yaitu tiram dan daging sapi.

Selenium
Selenium bekerjasama dengan vitamin E untuk berperan sebagai antioksidan dan menjaga kualitas membran sel pada imun tubuh. Contoh makanan yang mengandung selenium yaitu jamur, hati, dan seafood.


            Dengan tingginya antioksidan pada tubuh kita maka radikal bebas akan banyak ditangkal. Hal ini membuat sel tubuh kita sehat termasuk sel-sel imun dengan demikian akan meningkatkan sistem imunitas tubuh.
            Lalu bagaimana dengan penggunaan suplemen? Pada kondisi saat ini dimana sedang terdapat wabah virus maka kita perlu meningkatkan kebutuhan akan zat-zat gizi supaya imunitas tubuh juga meningkat. Namun diutamakan untuk mencukupi kebutuhan gizi dipenuhi dari makanan. Jika dirasa kurang, baru menggunakan suplemen yang tepat sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing zat gizi pada tubuh. Penggunaanya pun hanya 2-3 kali dalam seminggu tidak boleh setiap hari. Namun juga dengan syarat mengonsumsi berbagai jenis makanan sehingga dapat menunjang imunitas.


            Karena imunitas sangat penting untuk melawan virus, gimana sih pelayanan gizi yang tepat bagi pasien Covid-19? Covid-19 merupakan penyakit yang diakibatkan oleh virus sehingga membutuhkan dukungan fingsi internal yang baik untuk proses pemulihannya. Nutrisi berperan dalam mendorong respon imunitas alamiah, sehingga penting untuk memastikan pasien agar menerima asupan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Dibawah ini adalah pemilihan sumber nutrisi bagi pasien covid-19 :
  1. Formula enteral isosmotik berprotein tinggi (>20%) sebaiknya digunakan pada fase akut awal.
  2. Tingkatkan asupan protein dengan nilai bioavaibilitas tinggi (HBV & BCAA). HBV dapat dari protein whey & protein hewani (50% dari kebutuhan protein): mencegah muscle wasting, peningkatan kekuatan otot pernapasan, meningkatkan kemampuan batuk, dan pengenceran dahak.
  3. Meningkatkan asupan BCAA hingga 35%, bermanfaat dalam mencegah pemecahan otot, memperbaiki resistensi insuli, dan efikasi terapi interferon.
  4. Lemak 25-30% asupan kalori. Jenis Lemak bagi yang mampu asupan oral yaitu dengan meningkatkan asupan ALE dari minyak nabati, terutama MUFA; serta meningkatkan asupan omega 3 dan omega 9 yang dapat menurunkan risiko infeksi & LOS, memperbaiki fungsi endotel dan liver.
  5. Ketika status pasien membaik dan kebutuhan vasopressor berkurang, penambahan serat harus dipertimbangkan.
  6. Jika ada disfungsi GI, dapat dicoba formula bebas serat segera setelah disfungsi GI membaik, serat sebaiknya diberikan untuk menjaga kesehatan mikrobiota usus.
  7. Omega-3 bermanfaat dalam modulasi sistem imun dan efek eleminasi virus.
  8. Formula polimer standar, cocok untuk pasien dengan COVID-19 tanpa penyakit komorbid (DM, PGK, hati kronik).
  9. Kebutuhan protein dan energi pada pasien COVID-19 kondisi kritis lebih tinggi sehingga tidak cukup dengan formula standar.
  10. Untuk pasien dengan komorbid, formula enteral disesuaikan dengan faktor komorbid.
            Untuk pasien yang sedang diet maka menggunakan diet rendah karbohidrat, tinggi protein, dan tinggi lemak MCT, mengapa rendah karbo karena untuk penyakit saluran nafas biasanya timbul sesak, supaya tidak memperparah sesak nafas diberikan rendah karbo, karena metabolisme karbohidrat dapat menimbulkan sisa berupa CO2 yang menambah beban saluran napas, jadi harus direndahkan karbohidratnya.

Daftar Pustaka

Anggraini, Dian Isti, Putu Ristyaning Ayu. 2014. The Relationship Between Nutrional Status And Immunontrition Intake With Immunity. Jurnal Juke. Vol. 4, No. 8.

Arthur J.R., Mc Kenzie R.C., and Beckett G.J. 2003. Selenium In The Immune System. J. Nutr. 133: 1457S-1459S.

Fatmah. 2006. Respon Imunitas yang Rendah Pada Tubuh Manusia Usia Lanjut. Jurnal Makara Kesehatan. Vol.10, No.1.

Lesourd B.M. 1997. Nutrition and immunity in elderly: modification of immune responses with nutritional treatments. J. Clin Nutr. 66: 478S-484S.

Siagian, Albiner. Gizi, Imunitas, dan Penyakit Infeksi. Universitas Sumatra Utara. Vol. 188-194.

Sabtu, 14 Desember 2019

Manfaat Tersembunyi Dibalik Pangan Lokal Indonesia


“Peran Pangan Fungsional Berbasis Pangan Lokal
dalam Peningkatan Derajat Kesehatan”




 Orang-orang yang bijaksana sering mengatakan bahwa "kesehatan adalah harta yang paling berharga dalam hidup ini". Sehat dan bugar adalah dua kunci yang sebaiknya dimiliki oleh setiap orang agar hidup ini menjadi lebih bermakna. Oleh karena itu dalam mewujudkannya kita perlu melakukan  pengaturan pola makan(Astawan, 2011). Dalam kehidupan modern ini, filosofi makan telah mengalami pergeseran, di mana makan bukanlah sekadar untuk kenyang, tetapi yang lebih utama adalah untuk mencapai tingkat kesehatan dan kebugaran yang optimal. Menurut Winarno dkk.(1995) dalam Astawan (2011) fungsi pangan dikelompokkan menjadi tiga fungsi yaitu fungsi primer (primary function), fungsi sekunder (secondary function) dan fungsi tertier (tertiary function).
   
Fungsi primer adalah fungsi pangan yang utama bagi manusia yaitu untuk memenuhi kebutuhan zat-zat gizi tubuh, sesuai dengan jenis kelamin, usia, aktivitas fisik, dan bobot tubuh. Selain memiliki fungsi primer, bahan pangan sebaiknya juga memenuhi fungsi sekunder yaitu memiliki penampakan dan cita rasa yang baik. Sebab, bagaimanapun tingginya kandungan gizi suatu bahan pangan akan ditolak oleh konsumen bila penampakan dan cita rasanya tidak menarik dan memenuhi selera konsumennya. Itulah sebabnya kemasan dan cita rasa menjadi faktor penting dalam menentukan apakah suatu bahan pangan akan diterima atau tidak oleh masyarakat konsumen. Dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga kian bergeser. Bahan pangan yang kini mulai banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan cita rasa yang menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh. Fungsi yang demikian dikenal sebagai fungsi tertier. Tiga fungsi makanan tersebut dapat didapatkan melalui konsumsi makanan fungsional.Fungsi primer adalah fungsi pangan yang utama bagi manusia yaitu untuk memenuhi kebutuhan zat-zat gizi tubuh, sesuai dengan jenis kelamin, usia, aktivitas fisik, dan bobot tubuh. Selain memiliki fungsi primer, bahan pangan sebaiknya juga memenuhi fungsi sekunder yaitu memiliki penampakan dan cita rasa yang baik. Sebab, bagaimanapun tingginya kandungan gizi suatu bahan pangan akan ditolak oleh konsumen bila penampakan dan cita rasanya tidak menarik dan memenuhi selera konsumennya. Itulah sebabnya kemasan dan cita rasa menjadi faktor penting dalam menentukan apakah suatu bahan pangan akan diterima atau tidak oleh masyarakat konsumen. Dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga kian bergeser. Bahan pangan yang kini mulai banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan cita rasa yang menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh. Fungsi yang demikian dikenal sebagai fungsi tertier. Tiga fungsi makanan tersebut dapat didapatkan melalui konsumsi makanan fungsional (Astawan,2011).

Pangan fungsional adalah pangan yang karena kandungan komponen aktifnya diluar kandungan zat gizinya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, merupakan bagian dari diet sehari-hari dan memiliki sifat sensoris yang dapat diterima. Menurut para ilmuwan Jepang, beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh suatu produk agar dapat dikatakan sebagai pangan fungsional adalah:
  1. Harus merupakan produk pangan (bukan berbentuk kapsul, tablet, atau bubuk) yang berasal dari bahan (ingredien) alami
  2. Dapat dan layak dikonsumsi sebagai bagian dari diet atau menu sehari-hari
  3. Mempunyai fungsi tertentu pada saat dicerna, serta dapat memberikan peran dalam proses tubuh tertentu, seperti: memperkuat mekanisme pertahanan tubuh, mencegah penyakit tertentu, membantu mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit tertentu, menjaga kondisi fisik dan mental, serta memperlambat proses penuaan. Dari konsep yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan, jelaslah bahwa pangan fungsional tidak sama dengan food supplement atau obat. Pangan fungsional dapat dikonsumsi tanpa dosis tertentu, dapat dinikmati sebagaimana makanan pada umumnya, serta lezat dan bergizi (Astawan, 2011).

Pangan Fungsional dari Laut

Makroalga atau rumput laut secara tradisional digunakan sebagai nutrisi bagi manusia dan hewan (Handayani, 2006 dalam Kusumayanti,dkk,2016). Contohnya seperti Rumput laut jenis algae coklat dan merah yang digunakan untuk produksi zat makanan tambahan untuk melengkapi nutrisi manusia seperti protein, beberapa elemen mineral, vitamin, dan terutama hidrokoloid yang berupa alginat, agar, dan karaginan (Fleurence, 1999 dalam Kusumayanti,dkk,2016). Rumput laut merah mengandung protein sekitar 30-40% dari berat kering (Dharmananda, 2002 dalam Kusumayanti,dkk,2016). Selain makroalga, pangan fungsional dari laut juga berasal dari mikroalga,seperti  Tetraselmis chuii. Tetraselmis chuii memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi yaitu protein sebesar 48,42%, karbohidrat sebesar 12.10%, lemak 9.70%, aktivitas antioksidan berkisar antara 2.55-31.29 mg/mL dan total klorofil berkisar antara 3.65-19.20 mg/g. (Sani et al, 2014 Kusumayanti,dkk,2016). Rumput laut merah mengandung protein sekitar 30-40% dari berat kering (Dharmananda, 2002 dalam Kusumayanti,dkk,2016).  Senyawa protein pada organisme laut terdiri dari rangkaian bioaktif peptida, yang dapat menunjukkan efek fisiologi dalam tubuh. Beberapa diantaranya diidentifikasi bermanfaat bagi kesehatan manusia dan dapat digunakan untuk mengurangi kemungkinan timbulnya penyakit jantung (Ngo et al., 2011 dalam Kusumayanti,dkk,2016).


Pangan Fungsional dari Lidah Buaya

Tumbuh-tumbuhan merupakan salah satu bahan alami tertua yang diketahui sebagai sumber pangan fungsional.Salah satu tumbuhan  yang dapat dimanfaatkan sebagai pangan fungsional adalah lidah buaya (Aloe vera) yang mengandung senyawa aktif acemannandan glucomannan.  Hasil penelitian in vitro memperlihatkan bahwa polisakarida yang dikandung oleh Aloe vera ((3-1,3; (3-glucan dan (1-1,4 yang dikenal sebagai acemannan} merupakan senyawa yang bersifat imunomodulator. Efek imunostimulan Aloe vera yang telah dibuktikan secara in vitro adalah memacu dan meningkatkan aktivitas makrofag dan monosit, meningkatkan jumlah sel limfosit T (proliferasi sel limfosit) dan memacu aktivitas candidacidal makrofag serta berefek langsung pada sel-sel sistem imun. Selain itu percobaan in vitro juga menunjukkan bahwa acemannan meningkatkan dan memacu makrofag melepas interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), Tumor nekrosis Factor alpha (TNF-) dan interferon gamma (IFN-). Penelitian lain pada sel makrofag, acemannan dapat menstimulasi produuksi sitokin makrofag (IL-6 dan TNF-), produksi NO, ekpresi molekul permukaan dan perubahan morfologi sel. Acemannan mampu meningkatkan respon limfosit terhadap antigen dengan meningkatkan pelepasan IL-1 oleh monosit (Yuniastuti,2014).

Glucomannan adalah serat tinggi yang penting untuk membersihkan sistem pencernaan. Glucomannan merupakan serat larut (Seluble Dietary Fiber, SDF), karena glucomannan dapat menyerap 200 kali berat air. Glucomannan dapat mengontrol kegemukan, kadar gula darah, membantu mencegah kanker, sembelit, dan mereduksi kolesterol. Glucomannan juga efektif untuk obat pencahar atau laxative. Glucomannan dapat menghambat kerja HMG KoA reduktase dalam biosintesis kolesterol di sel dan menghambat kerja Acyl CoA Cholesterol Acyl Transferase (ACAT) sehingga dapat menurunkan hiperkolesterolemi. Fermantasi serat dalam usus besar meningkatkan pertumbuhan bakteri penghasil asam laktat yang membantu mencegah akumulasi zat racun dan bakteri patogen (penyebab penyakit). Beberapa studi tentang penggunaan suplemen glucomannan dengan beberapa gram/hari akan efektif menurunkan kolesterol total darah. LDL-kolesterol dan trigliserida dan dalam beberapa kasus dapat menaikkan HDLkolesterol (Yuniastuti, 2014).

Pengembangan Pangan Fungsional Berbasis Pangan Lokal


            Pangan Lokal adalah pangan yang diproduksi dan dikembangkan sesuai dengan potensi dan sumberdaya wilayah dan budaya setempat. Pengertian lain dari pangan lokal ialah suatu makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal.  Indonesia terkenal karena memiliki keanekaragaman bahan pangan lokal khususnya produk pertanian. Namun, banyak diantara produk-produk tersebut yang belum teroptimalkan potensinya. Padahal, bahan pangan yang berasal dari produk pertanian merupakan salah satu sumber bahan pangan fungsional. Salah satu cara memaksimalkan produk pertanian adalah dengan cara mengembangkannya menjadi olahan tepung. Olahan berbasis tepung memang lebih potensial dikembangkan karena mudah diterima oleh masyarakat. Apalagi kekayaan akan sumber daya alam hayati yang dapat dijadikan sebagai bahan baku tepung cukup banyak tersedia. Teknologi tepung merupakan salah satu proses alternatif produk setengah jadi yang dianjurkan karena lebih tahan lama disimpan, mudah dicampur (dibuat komposit), diperkaya zat gizi (difortifikasi), dibentuk dan lebih cepat dimasak sesuai tuntutan kehidupan modern yang serba praktis (Budijono, dkk., 2010 Hassan.2014). Dengan proses pengolahan menjadi bentuk tepung maka penggunaannya juga akan lebih praktis dan fleksibel karena dapat dipakai sebagai bahan baku atau campuran (composite flour) dalam pembuatan aneka produk pangan seperti roti, mie, kue, jajan pasar dan sebagainya.  Beberapa jenis olahan tepung berbasis pangan lokal diantaranya (Hassan.2014) :

  1. Tepung Pisang
Pisang (Musa paradisiaca) merupakan komoditas hortikultura khas tropis yang produksinya sangat berlimpah. Pisang mampu tumbuh dan berproduksi hampir diseluruh wilayah di Indonesia. Salah satu bentuk pemanfaatan pisang (pisang kapok) adalah dengan mengolahnya menjadi tepung pisang. Tepung pisang ini selain dapat digunakan sebagai bahan berbagai macam industry juga merupakan salah satu contoh pemanfaatan pangan local sebagai pangan fungsional. Hal itu karena pisang mempunyai kandungan gizi yang baik, yaitu vitamin (provitamin A, B, dan C) serta mineral (kalium, magnesium, fosfor, besi dan kalsium) yang penting bagi tubuh.  Selain itu pisang memiliki kandungan pati resistant (resistant starch) yang cukup tinggi dan juga polisakarida non-pati (non-starch polysaccharides) yang berfungsi sebagai serat pangan (dietary fiber) (Nursihan, dkk., 2009 dalam Hassan.2014). Pati resistan (resistant starch) adalah bagian dari pati yang tidak dapat dicerna di usus halus manusia yang sehat, sehingga ketika mencapai kolon akan difermentasi oleh mikroflora usus dan menghasilkan asam lemak rantai pendek (short chain fatty acid/SCFA). Pati resistan (resistant starch) merupakan substrat yang sangat cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan bakteri probiotik karena pati resistan bertindak sebagai prebiotic yang sangat ideal.  Selain itu, asam lemak rantai pendek yang dihasilkan akan menciptakan suasana asam dalam kolon, sehingga dapat mencegah kanker dan meningkatkan bioavailabilitas, kelarutan serta absorbsi mineral seperti Ca, Fe. Setiap 100 gram tepung pisang diketahui mengandung pati 64,69 - 67,31 gram, total gula 18,24 - 20,04 gr, serat kasar 1,96-2,51 gram, protein 3,36 - 4,12 gram, vitamin C 32,5 - 32,6 miligram, total asam 0,36 - 0,71 gram, dan air 5,85-11,6 gram.

  1. Tepung Ubi Alabio
Ubi alabio (Dioscorea alata L.) merupakan salah satu varietas ubi jalar, dengan karakterisitik spesifik yaitu daging umbinya yang berwarna ungu. Setiap 100 gram tepung ubi alabio mengandung kalori 112 kalori, protein 8,9 gram, lemak 1,4 gram, karbohidrat 56 gram, vitamin A 30 SI, vitamin B 0,04 miligram, vitamin C 9 miligram, Ca 39 miligram, pospor 62 miligram, besi 0,9 miligram, air 15 gram. Ubi Alabio juga dapat disebut sebagai pangan fungsional. Hal itu karena Ubi alabio ungu mengandung antosianin yang berfungsi sebagai anti oksidan, yaitu terkait pada kemampuannya sebagai anti-kanker, anti-penuaan dsb. Selain itu, antosianin juga memiliki kemampuan sebagai antimutagenik dan antikarsinogenik terhadap mutagen dan karsinogen yang terdapat pada bahan pangan dan olahannya, mencegah gangguan pada fungsi hati, antihipertensi dan menurunkan kadar gula darah (antihiperglisemik) (Prabhavat, dkk., 2008 dalam Hassan,2014).

  1.  Tepung Waluh
Labu kuning atau waluh, pumpkin (Cucurbita moschata), merupakan komoditas pangan lokal Indonesia yang cukup banyak digemari oleh masyarakat. Penyebaran waluh di Indonesia relatif merata, karena hampir di semua kepulauan nusantara dapat dijumpai tanaman waluh. Setiap 100 gram tepung waluh mengandung protein 5,04 gram, lemak 0,08 gram, abu 5,89 gram, karbohidrat 77,65 gram, vitamin A 116 ppm, vitamin B 122 ppm, vitamin C 4,6 ppm, kalsium 0,49 gram, dan magnesium 0,32 gram. Hasil penelitian oleh Aini (2001), menyebutkan bahwa dalam daging buah waluh terkandung beberapa vitamin yang cukup tinggi antara lain ß-karoten, vitamin A dan vitamin C. Hasil kajian dari beberapa penelitian (Murkovic, dkk., 2002; Norshazila, dkk., 2012 dalam Hassan, 2014.) menyebutkan bahwa daging buah waluh mengandung antiokisidan berupa senyawa ß-karoten sebagai penangkal pelbagai jenis kanker, air buahnya berguna sebagai penawar racun binatang berbisa, dan bijinya dapat digunakan untuk obat cacing pita. Penelitian lain (Sumardiono, 2009 dalam Hassan, 2014.) menyebutkan bahwa waluh memainkan peranan penting dalam mencegah penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus (kencing manis), arterosklerosis (penyempitan pembuluh darah), jantung koroner, tekanan darah tinggi, bahkan bisa pula mencegah kanker.




  1. Tepung Talas
Bogor dan Malang merupakan dua sentra produksi talas (Colocasia esculenta (L) Schoot) di Indonesia. Talas bentul merupakan talas yang paling banyak dibudidayakan secara komersial karena
produktivitasnya yang tinggi, rasanya yang enak dan cocok bila diolah menjadi berbagai aneka produk pangan olahan (Fatah, 1995; Rahmanto, 1994). Setiap 100 gram tepung talas mengandung
kalori 104 kalori, protein 1,9 gram, lemak 0,2 gram, karbohidrat 23,7 gram, vitamin B 0,13 miligram, vitamin C 4 miligram, kalsium 38 mg, pospor 61 miligram, besi 1 miligram, dan air 73 gram.  Selain itu, hasil dari penelitan lain membuktikan adanya kandungan maltodekstrin dengan kadar gula pereduksi pada talas yang cukup tinggi, yaitu berkisar antara 26,87 - 34,37 persen. Maltodekstrin merupakan oligosakarida yang tergolong dalam prebiotic (substrat untuk bakteri probiotik). Maltodekstrin sangat baik bagi tubuh karena secara nyata dapat memperlancar proses pencernaan dengan membantu tumbuh dan berkembangnya bakteri probiotik. Selain itu, maltodekstrin merupakan senyawa yang mempunyai fungsi fisiologis tertentu yang dapat mengurangi resiko penyakit degeneratif (Hartati dan Prana, 2003 dalam Hassan, 2014.).


  1. Tepung Jagung
Tepung jagung merupakan salah satu alternatif pengganti tepung terigu. Saat ini, tepung jagung sudah bisa menggantikan tepung terigu hingga 35 persen untuk industry mie instant (Widaningrum, dkk., 2010). Dalam tepung jagung mengandung kadar kalori tepung jagung 355 kalori, lemak 3,9 persen, lemak 3,9 gram, karbohidrat 73,7 gram, kalsium 10 miligram, fosfor 256 miligram, ferrum/besi 2,4 miligram, vitamin A 510 SI, vitamin B1 0,38 miligram, air 12 gram Selain itu, jagung juga memiliki serat kasar (4,24 persen). Sifat fungsional yang dimiliki oleh jagung diantaranya kandungan minyak nabati yang cukup tinggi yang merupakan sumber asam lemak omega-6 yang bermanfaat dalam proses pertumbuhan anak, menjaga kesehatan kulit, mencegah penyakit jantung, dan stroke. Jagung sangat direkomendasikan bagi para perokok karena mengandung betacryptoxanthin yang dapat menurunkan resiko kanker paru-paru. Dari hasil penelitian (Yuan, dkk., 2003 dalam Hassan, 2014.) dilaporkan bahwa orang yang banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung betacryptoxanthin terbukti mengalami penurunan resiko kanker paru-paru hingga 27 persen.

  1. Tepung Sukun
Buah sukun merupakan bahan pangan alternatif yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber karbohidrat. Namun demikian biasanya buah sukun dikonsumsi sebagai makanan tradisional dan makanan ringan dengan pengolahan yang sangat sederhana seperti direbus, digoreng atau dibakar. Dalam 100 gram tepung sukun mengandung 103 kalori, karbohidrat 78,9 gram, protein 3,6 gram, lemak 0,8 gram. Selain kandungan karbohidrat yang tinggi, tepung sukun juga mengandung mineral dan vitamin yang juga cukup tinggi, yaitu vitamin B1 0,34 miligram, vitamin B2 0,17 miligram, vitamin C 47,6 miligram, kalsium 58,8 miligram, fosfor 165,2 miligram, dan besi 1,1 miligram. Penelitian terbaru (Tjandrawati, dkk., 2011, dalam Hassan,2014) menunjukkan bahwa sukun juga sangat baik untuk pengobatan kardiovaskular karena mengandung senyawa flavonoid. Senyawa flavonoid memiliki struktur 1,2-diarilpropan, yakni sebuah kelompok flavonoid yang banyak ditemukan di alam, umumnya adalah flavon, flavonol, dan antosianidin. Sebagian besar flavonoid ditemukan di alam dalam bentuk glikosida, yaitu ikatan senyawa flavonoid dengan gula. Flavonoid merupakan antioksidan kuat yang dapat mereduksi radikal bebas dalam tubuh manusia, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi penyakit kardiovaskular.

  1. Tepung Ubi Jalar Merah
Ubi jalar merah merupakan salah satu sumber karbohidrat yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia. Proses pengolahan ubi jalar merah yang semula masih sangat tradisional seperti dikukus ataupun digoreng, kini mulai ditingkatkan menjadi tepung sehingga daya simpannya lebih lama dan mudah dicampur dengan bahan lainnya. Dalam 100 gram bahan terdapat karbohidrat 17,6 gram, protein, 1,57 gram, lemak, 0,05 gram, serat 3 gram, kalsium 30 miligram, zat besi 0,61 miligram, magnesium 25 miligram, seng 0,30 miligram, kalium 337 miligram, vitamin A 20063 IU, dan vitamin C 22,7 miligram Kandungan vitamin, mineral dan fitokimia juga berfungsi sebagai antioksidan. Dalam ubi jalar merah tersimpan 2.900 mg (9.657 SI beta karoten). Seiring dengan makin pekatnya warna merah, makin tinggi pula kadar beta karotennya. Selain beta karoten, warna jingga pada ubi jalar juga disebabkan karena tingginya senyawa lutein dan zeaxanthin, yaitu pasangan antioksidan karotenoid yang merupakan bahan pembentuk vitamin A. Selain itu, lutein dan zeaxanthin juga merupakan senyawa aktif yang memiliki peran penting dalam menghalangi proses perusakan sel.

Pengembangan Pangan Fungsional Berbasis Pangan Lokal sebagai Produk Sarapan untuk Remaja Gemuk

Kegemukan merupakan masalah yang sangat kompleks, yang antara lain berkaitan dengan kualitas makanan yang dikonsumsi, pola makan yang kurang baik, kurangnya aktivitas fisik, faktor genetik, hormonal, dan lingkungan (Berkey et al. 2003; Maffeis et al. 2012 dalam Darawati,dkk,2016). Pola makan yang kurang baik diantaranya adalah sering melewatkan sarapan. Hasil penelitian Arora et al. (2012 dalam Darawati,dkk, 2016), menunjukkan bahwa sarapan merupakan suatu kegiatan yang sangat penting sebelum melaku­kan aktivitas pada pagi hari. Sarapan yang teratur berhubungan dengan berkurangnya kegemukan. Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa stres oksidatif  juga mempunyai mekanisme yang berhubungan dengan kegemukan dan komplikasinya.

Salah satu strategi intervensi yang dapat dilakukan untuk mengendalikan stres oksidatif adalah melalui modifikasi diet. Beberapa studi telah mengonfirmasi adanya hubungan yang kuat antara diet yang kaya pangan nabati dengan ke­sehatan. Efek positif dari pangan nabati ini ber­hubungan dengan kandungan fitokimia, vitamin antioksidan, dan serat pangan. Sebagian besar komponen pangan ini berkontribusi terhadap ke­seimbangan reaksi oksidasi reduksi melalui me­kanisme seperti memerangkap secara langsung atau menetralisir radikal bebas, memodulasi ak­tivitas dan ekspresi enzim antioksidan, dan aksi anti inflamasi (Vincent et al. 2007; Codoner-Franch et al. 2010; Savini et al. 2013 dalam Darawati,dkk, 2016). Oleh karena itu penting dikembangkan alternatif produk sarapan siap makan dari pangan lokal yang memenuhi ke­butuhan zat-zat gizi remaja dan kaya antioksidan.



 Penelitian oleh Darawati,dkk (2016) berhasil membuat  formula pangan fungsional berbasis pangan lokal. Produk yang dihasilkan berupa kombinasi dari berbagai pangan lokal yang dimodifikasi menjadi produk siap makan berupa soft bar. Bahan-bahan utama dari formula pangan fungsional meliputi ubi jalar oranye, kacang merah, tempe kedelai, wortel, dan labu kuning. Ubi jalar oranye (Ipomoea batatas) merupa-kan jenis umbi yang umum dikonsumsi, sum­ber β-karoten, serat pangan, dan beberapa jenis mineral (Leksrisompong et al. 2012 dalam Darawati,dkk, 2016). Kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) merupakan salah satu sumber protein nabati yang murah dan mudah dibudidayakan. Kacang merah banyak mengandung antioksidan dan serat pangan (Wi-lliams et al. 2008; Nyau 2014 dalam Darawati,dkk, 2016). Wortel (Daucus carota L.) dan labu kuning (Cucurbita maschata) merupakan bahan-bahan makanan sumber utama β-karoten. Wortel merupakan salah satu sayuran sumber antioksidan alami yaitu karotenoid (Sham El-Din et al. 2011 dalam Darawati,dkk, 2016). Labu kuning merupakan sumber karotenoid, β-karoten yang mempunyai peranan penting dalam gizi manusia dan dapat berperan sebagai antioksidan (Cerniauskiene et al. 2014 dalam Darawati,dkk, 2016). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa komponen karotenoid dapat berperan se-bagai antioksidan melalui aktivitas memerang­kap radikal bebas (Ebadollahi-Natanzi & Arab-Rahmatipour 2014 dalam Darawati,dkk, 2016). Produk pangan fungsional yang terpilih mengandung serat pangan 10,16 g. Serat pangan memiliki efek fisiologis yang baik untuk pencer­naan. Konsumsi serat pangan yang cukup sangat baik bagi remaja yang mengalami kegemukan.

Produk soft bar ini juga mengandung β-karoten 4,02 mg dalam 1 porsi (160 g) penyajian. Antioksidan ke­lompok karotenoid termasuk β-karoten memiliki efek menyehatkan antara lain dapat menetralkan radikal bebas dan meningkatkan pertahanan ter­hadap oksidasi. Aktivitas an­tioksidan produk sarapan terpilih adalah 38,54 mg/100g (AEAC=ascorbic acid equivalent anti­oxidant capacity). Hal ini menunjukkan bahwa 100 g produk sarapan ini mampu meredam radi­kal bebas DPPH setara dengan vitamin C sebanyak 38,54 mg (Leong & Shui 2002 dalam Darawati,dkk, 2016). Total mikroba (angka lempeng total) dalam produk  adalah 9,6 x 102 koloni/g masih dibawah ambang batas (1 x 104 koloni/g) untuk produk olahan sejenis, jadi produk ini aman untuk dikonsumsi (BPOM 2009 dalam Darawati,dkk, 2016).














DAFTAR PUSTAKA
Astawan M. 2011. Pangan Fungsional untuk Kesehatan yang Optimal. Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Bogor.

Kusumayanti,Heny. Mahendajaya, RT. Hanindito,SB. 2016. Pangan Fungsional dari Tanaman Lokal Indonesia. Jurnal METANA.Vol. 12(1):26-30  

Yuniastuti,Ari.2014.Peran Pangan Fungsional Dalam Meningkatkan Derajat Kesehatan. Prosiding Seminar Nasional & Internasional. Jurusan Biologi, FMIPA.Universitas negeri Semarang

Hassan, Zahirortul Hikmah.2014. Aneka Tepung Berbasis Bahan Baku Lokal Sebagai Sumber Pangan Fungsionaldalam Upaya Meningkatkan Nilai Tambah Produk Pangan Lokal. Review. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu

Made Darawati, dkk. 2016. Pengembangan Pangan Fungsional Berbasis Pangan Lokal Sebagai Produk Sarapan Untuk Remaja Gemuk. Jurnal Gizi Pangan. Vol.11 (1)1:43-50