Senin, 08 November 2021

Optimalisasi 1000 HPK Strategi Mencerdaskan Generasi Bangsa

 

Masalah gizi di Indonesia meliputi kelebihan gizi dan kekurangan gizi. Masalah Kelebihan gizi ini menyebabkan berbagai macam risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, hipertensi, diabetes mellitus dan sebagainya. Kekurangan gizi ini juga akan menyebabkan seseorang terkena stunting dan kurus ketika anak kekurangan zat gizi kronis. Stunting ini masih menjadi masalah yang tinggi di Indonesia, masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa anak yang pendek itu normal.

Dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menyatakan bahwa balita yang mengalami stunting pada tahun 2007 ini sekitar (39,4%), pada tahun 2013 turun menjadi (37,2%), pada tahun 2018 yaitu (30,8%), dan terjadi penurunan kembali pada tahun 2019 menjadi (27,7%). Namun angka tersebut belum mencapai standar WHO yaitu 20%. Dan dari data World Bank tahun 2020 menunjukkan, prevalensi stunting di Indonesia ini berada pada urutan ke 115 dari 151 negara di dunia. Menurut data WHO tahun 2005-2017 Indonesia menempati urutan ke 3 prevalensi stunting di Asia Tenggara sebesar 36,4%.

Permasalahan-permasalahan gizi ini akan berdampak serius terhadap Sumber Daya Manusia (SDM). Mereka akan mengalami hambatan kognitif dan kegagalan Pendidikan. Maka dari itu untuk melahirkan anak Indoensia yang sehat dan cerdas, pemerintah mengeluarkan Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau yang bisa dikenal juga dengan Golden Periode (Periode Emas). Maksud dari Periode Emas ini yaitu karena masa-masa ini merupakan masa yang paling kritis untuk memperbaiki pertumbuhan fisik dan kognitif anak. Faktor rentan ini terjadi pada ibu hamil dan ibu menyusui, ketika si ibu mendapatkan asupan gizi dan status kesehatan yang baik maka bayi juga akan lahir dalam keadaan baik, begitupun sebaliknya ketika Ibu mendapatkan asupan zat gizi dan status kesehatan yang tidak baik maka bayi akan berisiko terkena stunting dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR).

Maka dari itu pencegahan stunting perlu kita ketahui agar tidak menimbulkan masalah kesehatan dan juga pertumbuhan anak di masa yang akan datang.

 

Apa itu 1000 HPK?


1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah fase terpenting dalam pertumbuhan anak. Otak anak berkembang sangat pesat, sistem metabolisme dan kekebalan tubuh mulai dibentuk. Otak mengalami over-prodksi neural connections (synaps) secara massif (blooming) pada periode dini kehidupannya. Otak bayi yang lahir aterm mempunyai synaps yang lebih banyak dibandingkan dewasa.

1000 hari pertama ini terbagi menjadi 2 fase, yaitu fase sebelum melahirkan dan sesudah melahirkan. Fase ini dimulai dari saat pembuahan sampai anak berusia 2 tahun atau 270 hari masa kehamilan ditambah (+) 730 hari setelah kelahiran sampai usia 2 tahun. Pada masa-masa ini tumbuh kembang anak harus terpantau, karena ketika tidak terpantau akan menyebabkan permasalahan pada tumbuh kembang anak. Berbagai perkiraan mekanisme hubungan antara status gizi pada awal kehidupan dengan risiko terjadinya penyakit kronis telah berkembang, salah satunya adalah Hipotesis Barker atau Fetal Programming Hypothesis, yang intinya adalah pentingnya perkembangan manusia sejak awal usianya sampai dengan 2 tahun pertama kehidupannya dalam menentukan kualitas hidup selanjutnya.

 

Bagaimana pertumbuhan yang optimal?

Pada usia 2 tahun pertama bayi mengalami pertumbuhan yang pesta. Pertumbuhan fisisk mencakup kenaikan berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Ketika kurang optimalnya asupan gizi dan ada penyakit infeksi pada usia ini mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan yang akan berakibat pada kondisi wasting dan atau stunting

Beberapa penyebab stunting adalah kurangnya asupan zat gizi yang diserap oleh tubuh sejak dalam kandungan sampai dengan setelah lahir, minimnya akses pelayanan kesehatan, akses air bersih dan sanitasi. Stunting juga dapat disebabkan oleh status gizi ibu riwayat saat hamil, riwayat panjang badan lahir pendek, riwayat Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), riwayat ASI, riwayat MP-ASI, tinggi badan ibu, jumlah keluarga, status ekonomi, tingkat Pendidikan dan pekerjaan orangtua serta tidak lepas dari pola asuh (Kusuma, 2013: Nurkomala, 2017). Jadi penyebab stunting bukan hanya dikarenakan pola konsumi gizi seimbang ibu dan anak tetapi faktor lingkunyan dan eksternal lainnya juga dapat memicu penyebab stunting

Stunting ini menimbulkan 2 dampak, yaitu jangka panjang dan jangka pendek. Dampak stunting jangka pendek, yaitu kecerdasan berkurang, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme tubuh. Dan dampak negatif jangka panjang, yaitu saat dewasa akan berisiko timbulnya penyakit diabetes, obesitas, stroke dan jantung. Gangguan perkembangan dan pertumbuhan bisa terjadi permanen, yang bisa dilakukan hanya fisioterapi.

 

Dampak kurang optimalnya pada masa ini!

Dampak yang ditimbulkan malnutrition pada periode ini bersifat permanen (irreversible) dan berjangka panjang. Tidak hanya untuk keadaan kekurangan gizi, tetapi mencakup semua rentang lingkungan, termasuk lingkungan dengan keadaan gizi yang berlebihan (excessive) yang berhubungan dengan obesitas maternal atau diabetes gestasional. Keadaan ini bisa menggiring pada siklus penyakit yang bersifat multi-generasi. Hipotesis Barker menyatakan bahwa berkurangnya pertumbuhan fetus berhubungan kuat dengan terjadinya beberapa penyakit degeneratif kronis di usia dewasa (seperti jantung, Diabetes Mellitus, Hipertensi, infeksi paru)

 

Apa yang bisa dilakukan?

1.      Memenuhi kebutuhan gizi saat hamil

Memenuhi kebutuhan gizi saat hamil ini harus mengkonsumi makanan yang seimbang, seperti mengkonsumsi sumber protein yaitu ikan, daging, telur, hati dan tempe. Serta mengkonsumsi juga sayur-sayuran hijau seperti bayam dan brokoli, karena kaya akan asam folat

2.      Tidak lupa memeriksakan kehamilan.

Pemeriksaan kehamilan ke bidan maupun dokter ini minimal dilakukan 4 kali selama hamil.

3.      Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.

Pemberian ASI ini berpotensi mengurangi kejadian stunting. Karena ASI ini kaya akan protein yang dapat membantu penyusunan sel-sel otak. Kandungan dan khasiat ASI ini tidak bisa tergantikan oleh susu formula lainnya.

4.      Pemberian MP-ASI ketika bayi sudah menginjak umur 6 bulan ke atas sampai 2 tahun

5.      Rutin menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan anak setiap bulan.

Ini dilakukan karena untuk lebih mudah mengetahui gejala awal jika terjadi gangguan pertumbuhan dan penanganannya.

6.      Selalu menjaga kebersihan lingkungan

Kebersihan ini salah satunya yaitu cuci tangan, agar si anak tidak terkena diare

 

Bagaimana perencanaan gizi ibu hamil?

1.      1. Menyiapkan cukup kalori, protein yang bernilai biologi tinggi, vitamin, mineral dan cairan untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu dan janin

2.     2.  Cukup kalori dan zat gizi untuk memenuhi pertambahan berat badan selama hamil

3.     3.  Memperoleh dan mempertahankan status gizi optimal hingga dapat menjalankan kehamilan dengan aman dan berhasil

4.     4.  Asuhan gizi untuk mengurangi reaksi yang tidak diinginkan seperti mual dan muntah

          5.   Membantu pengobatan penyulit kehamilan (diabetes kehamilan, hipertensi kehamilan

     6. Mendorong ibu hamil untuk mengembangkan kebiasaan makan yang baik yang dapat diajarkan pada anaknya


Kebutuhan dan penambahan zat gizi pada ibu hamil menurut AKG




Gizi pada bayi 0-24 bulan!

Ketika bayi baru lahir harus dilakukan Inisiasi Menyususi Dini (IMD), dan pada umur 0-6 blan bayi diberikan asi ekslusif, setelah 6 bulan sampai dengan 2 tahun bayi diberikan makanan pendamping asi. Kualitas dan kuantitas MP-ASI sesuai kebutuhan pada usia bayi, memenuhi kecukupan energi dan semua zat gizi sesuai dengan umur. Susunan hidangan disesuaikan dengan pola menu seimbang, bahan makanan yang tersedia setempat, kebiasaan makan, dan selera terhadap makan. Bentuk dan porsi makanan disesuaikan dengan daya terima, toleransi, dan keadaan faal bayi/anak. Selain itu kita juga harus memperhatikan kebersihan perorangan dan lingkungan.




Perkembangan anak pada masa MPASI

Pada usia 4-6 bulan: menunjukkan respon membuka mulut ketika sendok didekatkan, dan dapat memindahkan makanan dari sendok ke mulut

Pada usia 6-9 bulan: bayi dapat memindahkan makanan dari satu sisi mulut ke sisi lainnya, gigi depan bayi mulai tumbuh. Dan bayi dapat menelan makanan dengan tekstur yang lebih kental

Pada usia 9-12 bulan: bayi dapat merapatkan bibir ketika disuapi untuk membersihkan sisa makanan di sendok, dan bayi dapat menggigit makanan dengan tekstur lebih keras, sejalan dengan tumbuhnya gigi.

Pada usia 12-23 bulan dapat beradaptasi dengan segalam macam tekstur makanan, namun belum dapat mengunyah secara sempurna, dan mulai beradaptasi dengan segala menu makanan yang diberikan termasuk makanan keluarga.

 

REFERENSI

Andrew J. Prendergast dan Jean H. Humphrey. The Stunting Syndrome in Developing Countries. Paediatrics and International Child Helath, 34:4, 250-265.

Atikah Rahayu, dkk. Buku Ajar Gizi: Hari Pertama Kehidupan. CV Mine: Bantul Yogyakarta.

Hidayah, Nurul dan Marwan. 2020. Upaya Pemberdayaan Masyarakat Dalam Menciptakan Generasi Milenial Sadar Gizi Yang Bebas Stunting Melalui Kegiatan 1000 HPK. Journal of Community Enggagement in Health, Vol 3(1) :86-93.

Kathryn G. Dewey and Khadija Begum. 2011. Long-term Consequence of Stunting in Early Life. Maternal & Child Nutrition, 5-18.

Mubasyiroh, Laelatul dan Ziyadatul Chusna Aya. 2018. Hubungan Perilaku Ibu dalam Pemenuhan Gizi Pada Anak 1000 Hari Pertama Kehidupan/ Golden Period dengan Status Gizi Balita Di Desa Sitanggal Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes Tahun 2018. Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada, Vol 9(1): 18-28.

Rahmawati, Widya dkk. 2016. Gambaran Masalah Gizi pada 1000 HPK di Kota dan Kabupaten Malang, Indonesia. Indonesian Journal of Human Nutrition, Vol 3(1): 20-31.

Samsudrajat, Agus dan Sutopo Patria Jati. 2018. Kebijakan Penyelamatan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) dan Penurunan Stunting di Kota Semarang. Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia, Vol 6(1): 1-7.












Minggu, 31 Oktober 2021

Mitos & Fakta : Karbohidrat Membuat Tubuh Menjadi Overweight?

 

Seiring dengan majunya teknologi, munculnya metode diet populer yaitu salah satunya diet rendah karbohidrat untuk menurunkan berat badan sehingga muncul berbagai mitos tentang karbohidrat yang belum jelas dengan kebenaranya.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dengan perubahan zaman adalah penampilan fisik yang sering menjadi sorotan utama seseorang. Sehingga sangat berpengaruh terhadap cara pandang seseorang terhadap tubuhnya (citra tubuh).


`           Citra tubuh membentuk persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara internal maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan pada tubuh. Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang karakteristik dan kemampuan fisik dan oleh persepsi dari pandangan orang lain.

Citra tubuh ini banyak dialami oleh perempuan. Perempuan cenderung sangat memperhatikan bentuk tubuh dan menurut persepsi mereka bentuk tubuh yang baik adalah tubuh yang kurus dan langsing. Sehingga banyak orang yang melakukan diet untuk menurunkan berat badan yang tidak tepat agar terlihat menarik secara fisik. Banyaknya perempuan yang takut gemuk, fenomena ini terjadi tidak hanya bagi yang memiliki berat badan yang berlebih, tetapi juga bagi mereka yang memiliki berat badan yang sudah normal bahkan kurang melakukan diet penurunanan berat badan karena merasa takut untuk menjadi gemuk. Sehingga banyak orang yang melakukan metode diet mengikuti tren, salah satunya yaitu diet rendah karbohidrat, dengan menghindari konsumsi makanan sumber karbohidrat.


Mitos yang mungkin sering didengar, bahwa seseorang yang diet menghindari mengonsumsi karbohidrat dapat membuat badan overweight, karena mereka berpikiran bahwa makan karbohidrat akan membuat badan menjadi overwight.

Kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa orang diet juga sangat perlu yang namanya karbohidrat untuk energi bagi tubuh. Jika tidak mengkonsumsi karbohidrat atau bahkan tidak mengkonsumsi sama sekali akan membuat tubuh mengalami hipoglikemi atau penurunan gula darah secara drastis, yang nanti akan timbul gejala seperti lelah, pusing, keringat dingin, kejang hingga penurunan kesadaran bahkan sampai mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.

Karbohidrat merupakan salah satu zat gizi yang diperlukan oleh manusia yang befungsi untuk menghasilkan energi bagi tubuh manusia. Karbohidrat sebagai zat gizi merupakan nama kelompok zat-zat organik yang mempunyai struktur molekul yang berbeda-beda, meski terdapat persamaan-persamaan dari sudut kimia dan fungsinya. Semua karbohidrat terdiri atas unsur Carbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Karbohidrat selain berfungsi untuk menghasilkan energi, juga mempunyai fungsi yang lain bagi tubuh. Fungsi lain karbohidrat yaitu pemberi rasa manis pada makanan, penghemat protein, pengatur metabolisme lemak, membantu pengeluaran feses.


Ada berbagai bentuk karbohidrat, yaitu karbohidrat sederhana dan juga karbohidrat kompleks. Karbohidrat sederhana terdiri dari monosakarida, disakarida dan oligosakarida. Dimana karbohidrat sederhana ini banyak terdapat pada makanan yang umumnya minim kandungan gizinya seperti keripik, soda, permen, dan makanan manis lainnya. sedangkan karbohidrat kompleks yang terdiri dari polisakarida dan polisakarida non pati atau serat. Karbohidrat kompleks lebih padat akan zat gizi dan dapat ditemukan pada sumber yang lebih sehat, seperti buah – buahan, sayuran, biji – bijian, dan kacang – kacangan.

Overweight  bisa terjadi apabila jumlah asupan kalori lebih banyak daripada energi yang dikeluarkan. Begitupun karbohidrat, jika karbohidrat dikonsumsi tidak berlebihan maka tidak akan menjadi penyebab terjadinya overweight. Sebuah penelitian justru membuktikan bahwa konsumsi karbohidrat kompleks dari bahan whole-grain (biji-bijian utuh) seperti nasi merah, oatmeal, dan pasta whole-grain, ampuh mendukung program penurunan berat badan.

Mengurangi konsumsi sumber karbohidrat sederhana dan banyak mengonsumsi makanan dari sumber karbohidrat kompleks dapat membantu seseorang mempertahankan berat badan yang ideal dan dapat membuat tubuh merasa kenyang lebih lama dan memberikan nutrisi yang dapat membantu mengatur tubuh.


Daftar Pustaka

Astuty, dkk. 2016. Persepsi Mahasiswa D III Kebidanan Tentang Diet untuk Menurunkan Berat Badan  Di Stikes Karya Husada Semarang. Jurnal Kebidanan Stikes Husada

Mansyur, A. M. A. 2018. Hipoglikemia dalam Praktik Sehari-hari. Departemen Ilmu Penyakit Dalam.

Mukhlis, A. 2013. Berpikir positif pada ketidakpuasan terhadap citra tubuh. (body image  dissatisfaction). Jurnal Psikoislamika, 10(1), 5-14.

Siregar, Nurhamida Sari. 2014. Karbohidrat. Jurnal Ilmu Keolahragaan Vol. 13 (2): 38 – 44

Weni Kurdanti, dkk. 2015. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Obesitas pada Remaja. Jurnal  Gizi Klinik Indonesia. Vol. 11, Hal :  179-190

Kamis, 16 September 2021

Anoreksia dan Bulimia: Penyebab dan Penanganannya

 

Siapa itu remaja?

Masa remaja merupakan fase transisi dan perubahan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Hurlock, 1997). Menurut World Health Organization (WHO) masa remaja terbagi atas masa remaja awal (early adolescence) berusia 10-13 tahun, masa remaja tengah (middle adolescence) berusia 14-16  tahun dan masa remaja akhir (late adolescence) berusia 17-19 tahun. Seiring dengan perubahan fisiknya, banyak remaja menghayati perubahannya sebagai suatu hal yang merisaukan (Dariyo, 2002). Lebih lanjut dijelaskan remaja belajar dari lingkungan menjadi gemuk adalah buruk. Kegagalan dalam pemahaman tersebut mengakibatkan remaja mengalami kecenderungan gangguan makan anorexia nervosa. Brehm (dlm Maria et al., 2001) menyatakan bahwa faktor yang memberikan kontribusi dalam meningkatkan kecenderungan anorxia nervosa salah satunya adalah kepribadian.

Banyak remaja yang merasa tidak puas dengan penampilan dirinya. Hal ini akan menyebabkan para remaja mengalami gangguan makan atau eating disorders yang salah satunya diakibatkan oleh konsep persepsi tubuh seseorang yang buruk (persepsi negatif) dan ketidakpuasan terhadap tubuh yang dimiliki sehingga  dapat menimbulkan dorongan untuk menjadi lebih kurus dari tubuh yang dimiliki saat ini. Media dan lingkungan menanamkan persepsi bentuk tubuh ideal adalah tubuh yang kurus. Hal ini menyebabkan remaja merasa tidak percaya diri dan merasa tidak puas terhadap bentuk tubuhnya sendiri. Mayoritas remaja laki-laki maupun perempuan memiliki persepsi negatif dengan merasa penampilan dan keseluruhan tubuhnya tidak menarik dan tidak memuaskan. Jika hal ini berlangsung terus-menerus maka remaja akan mengalami depresi yang akan meningkatkan persepsi tubuh negatif sehingga menimbulkan perilaku makan yang menyimpang atau bisa juga disebut dengan eating disorders. 

Persepsi tubuh (body image) adalah kumpulan sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya, merupakan persepsi dinamis dari tubuh seseorang yang dibentuk secara emosional dan bisa berubah seiring dengan perubahan suasana hati, pengalaman, maupun lingkungan. Seseorang yang memiliki persepsi tubuh positif akan puas terhadap dirinya sendiri, merasa nyaman, dan percaya diri. Seseorang yang memiliki persepsi tubuh negatif menganggap tubuhnya  tidak menarik, merasa malu, dan tidak percaya diri terhadap bentuk tubuhnya sendiri. Persepsi tubuh yang negatif yang dapat berkembang menjadi eating disorders banyak terjadi pada remaja. Remaja tergolong dalam vunerable group (rentan) karena merasa tidak puas dengan penampilan dirinya. Hal ini disebabkan karena tahap perkembangan psikologis yang dialami oleh remaja. Perubahan psikis pada masa ini adalah mulai memperhatikan penampilan, mengidentifikasikan diri dengan tokoh yang diidolakan, dan juga mulai bergantung pada teman-teman sebaya dan lingkungan sosial sehingga jika ada komentar negatif dari orang lain tentang penampilan fisik yang dimiliki, remaja akan lebih mudah merasa malu dan akan melakukan apapun  agar mendapatkan komentar positif mengenai dirinya.

Apa yang dimaksud eating disorder?

Eating disorders (gangguan makan) makan yang menyimpang terkait dengan karakteristik psikologik yang berhubungan dengan makan, bentuk tubuh, dan berat badan. Saat ini ada dua macam eating disorder (gangguan makan) yang diakui, yaitu anorexia nervosa dan bulimia nervosa. Gangguan ketiga adalah “gangguan makan lain yang tidak ditetapkan” (EDNOS – eating disorders not otherwise specified) yang memasukkan beberapa variasi gangguan makan. Kebanyakan adalah mirip dengan anoreksia atau bulimia tetapi dengan karakter yang berbeda sedikit. Binge-eating disorder, yang menerima peningkatan dalam jumlah penelitian dan perhatian media dalam beberapa tahun belakangan ini adalah salah satu  tipe  EDNOS  termasuk  dalam DSM-V. Gangguan makan adalah suatu penyakit psikiatri ditandai dengan adanya pola makan yang menyimpang terkait dengan karakteristik psikologis berhubungan dengan makan, gambaran tubuh dan berat badan (Soetjiningsih, 2004). Gangguan makan yang umumnya terjadi pada remaja yaitu anoreksia nervosa dan bulimia nervosa (Kusumajaya, 2008).

Ada beberapa tipe dari Perilaku Makan Menyimpang (PMM) ini. Dua tipe yang paling menonjol adalah anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Satu tipe lainnya yaitu perilaku makan binge. Tipe ini belum dapat disebut sebagai diagnosis psikiatris formal, tapi telah banyak yang menyarankan untuk dimasukkan sebagai salah satu kategori terbesar dari PMM. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV) kriteria anoreksia nervosa adalah penolakan untuk mempertahankan berat badan normal minimal. Sedangkan Bulimia Nervosa dikriteriakan sebagai pengulangan episode binge eating diikuti dengan tindakan kompensasi seperti sengaja muntah, menggunakan laksatif, diuretik, atau obat lainnya, puasa atau olahraga berlebihan. Keempat model tersebut juga melakukan penurunan berat badan dengan membatasi asupan makan dan menggunakan obat pencahar seperti obat pencuci perut, garam inggris, dan obat-obat pelancar buang air besar, selain itu melakukan olahraga secara berlebihan.

Penderita Anoreksia Nervosa


Seseorang didiagnosa anorexia nervosa apabila mengalami kesalahan dalam memandang berat atau bentuk badan. Individu yang mengalami gangguan ini mengalami ketakutan yang amat sangat terhadap kenaikan berat badan, sehingga cenderung melakukan penolakan terhadap berat badan normal sesuai umur dan tinggi badan (American Psychiatric Association, 2000). Gangguan makan seperti ini ditandai dengan aktivitas untuk menguruskan badan dengan melakukan pembatasan makan secara sengaja melalui kontrol yang ketat. Walaupun penderita anorexia nervosa menyadari bahwa dirinya merasa lapar, namun takut untuk memenuhi kebutuhan makan, hal tersebut dikarenakan dapat berakibat naiknya berat badan (Tambunan, 2002). Seseorang yang mengalami eating disorder melakukan cara untuk mengurangi berat badan untuk mendapatkan tubuh ideal menurut dirinya. Misalnya, mengurangi porsi dan pilih-pilih makanan sampai melakukan olah raga berlebihan. Ciri-ciri perilaku seperti ini menampakkan adanya suatu gangguan makan anorexia nervosa.

Terdapat hubungan yang bermakna antara persepsi tubuh dan eating disorders dan terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dan eating disorders. Perlu pencegahan dini terjadinya eating disorder yang diakibatkan persepsi tubuh negatif terutama pada remaja. Remaja yang memiliki citra tubuh yang negatif akan lebih rentan mengalami gangguan makan karena mereka tidak puas akan bentuk tubuhnya dan cenderung melakukan diet yang tidak sehat. Pada masa remaja, perkembangan fisik terjadi secara cepat dan terus menerus. Perkembangan seks sekunder dan perubahan komposisi tubuh memberikan perubahan besar pada tubuh remaja. Remaja sering menjadi khawatir terhadap perubahan tubuhnya, terutama apabila mereka tidak dipersiapkan dengan baik (Batubara, 2010).

Citra tubuh adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan, dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang berkesinambungan dimodifikasi dengan pegalaman-pengalaman baru setiap setiap individu (Stuart & Sundeen dalam Kelliat, 1994). Citra tubuh merupakan sebuah konsep psikologis yang bersifat subyektif, sehingga konsep ini sebenarnya tidak bergantung pada penampilan fisik. Jadi seseorang yang memiliki tubuh ideal bisa saja memiliki citra tubuh negatif (Rice & Dolgin, 2002). Citra tubuh yang negatif akan meningkatkan kecenderungan mengalami gangguan makan. Makin besar kesenjangan antara berat badan sesungguhnya dengan berat badan yang diinginkan, makin besar pula usaha yang dilakukan untuk memperbaiki penampilannya dan semakin tinggi juga risiko remaja tersebut melakukan diet yang tidak sehat (Cooper & Stein, 1992).

Apa saja penyebab anoreksia dan bulimia?

Gangguan makan yang paling sering terjadi pada remaja adalah anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Gangguan makan merupakan suatu sindrom psikiatrik yang ditandai oleh pola makan yang menyimpang yang terkait dengan karakterisik psikologik yang berhubungan dengan makan, bentuk tubuh, dan berat badan (Soetjiningsih, 2004). Penyebab dari gangguan makan menurut Adriani & Wirjatmadi (2012), antara lain: citra tubuh, biologis, psikologis, sosial, keluarga, media, dan budaya. Salah satu faktor penyebab anorexia nervosa yang berasal dari dalam diri individu adalah kepribadian. Sebagaimana dinyatakan menurut Maria, et al (2001), kepribadian merupakan tahapan dominan dalam menentukan pola pikir dan perilaku individu. Tipe kepribadian yang kemungkinan besar menjadi penyebab terjadinya anorexia nervosa adalah kecenderungan kepribadian narsistik. Lebih lanjut Noah (1999), menyatakan bahwa pada penderita anorexia nervosa ditemukan juga adanya gangguan kecenderungan kepribadian narsistik.

Penderita Bulimia Nervosa


Bagaimana tanda dan gejala dari anoreksia dan bulimia?

Menurut Adriani & Wirjatmadi (2012), anoreksia nervosa merupakan gangguan makan yang bertujuan membuat tubuh menjadi kurus dengan cara sengaja membatasi makan dan mengontrolnya dengan ketat. Ciri-ciri penderita anoreksia nervosa antara lain:

1. Perubahan citra tubuh dari positif ke negative

2. Ketakutan yang luar biasa akan kelebihan berat badan

3. Penolakan untuk mempertahankan berat badan normal

4. Hilangnya siklus menstruasi

5. Berat badan berkurang minimal 15% dari berat badan sebelumnya

6. Menyangkal bahwa dirinya bermasalah

Sedangkan bulimia nervosa adalah perilaku makan yang cenderung berlebihan (binge) diikuti dengan usaha mengeluarkan makanan tersebut kembali dengan cara memuntahkannya atau meminum obat laksatif. Ciri-ciri penderita bulimia nervosa adalah:

1. Menyikat gigi lebih dari dua kali sehari akibat seringnya muntah

2. Sering mengunyah permen karet atau es, mengigit kuku, dan memakai mouthwash

3. Kram pada otot, kelalahan, dehidrasi, dan jantung berdebar-debar

4. Rasa sakit pada tenggorokan dan gigi sensitive

5. Berat badan berkurang setengah sampai satu kg per minggu

6. Bibir dan kulit sekitar mulut kering 

Penderita Binge-Eating Disorder


Lebih lanjut dijelaskan oleh Tambunan (2002), bahwa efek secara psikologis yang dialami oleh penderita anorexia nervosa adalah mereka mengalami perasaan tidak berharga, sensitif, mudah tersinggung, mudah marah, mudah merasa bersalah. Efek psikologis yang lain adalah kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain, tidak percaya diri, canggung berhadapan dengan orang banyak, cenderung berbohong untuk menutupi perilaku makannya, dan depresi karena tidak mendapatkan tubuh yang diidamkannya. Komplikasi medis yang terjadi pada penderita tersebut diakibatkan oleh kelaparan yang dideritanya hal ini dapat mempengaruhi ovulasi dan menstruasi, sehingga dapat mengakibatkan amenorrhea yaitu tidak ada sekurangnya tiga siklus menstruasi berturut-turut (Durand & Barlow, 2007).


DAFTAR PUSTAKA

Maryusman, T., & dkk. (2020). Apakah Citra Tubuh dan Risiko Gangguan Makan Berisiko Anemia? Studi Kasus Pada Siswa Putri. Ghidza: Jurnal Gizi dan Kesehatan, 4(1), 22-31.

Peran Kecenderungan Kecenderungan Kepribadian Narsistik Terhadap Kecenderungan Anorexia Nervosa pada Model Perempuan. (2014). Jurnal Sosio-Humaniora, 5(1), 44-54.

Siregar, R. U. (n.d.). Hubungan Citra Tubuh dengan Gangguan Makan pada Remaja Putri Masa Pubertas. Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Surabaya, 1-7.

Tantiani, T., & Syafiq, A. (2008). Perilaku Makan Menyimpang pada Remaja di Jakarta. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 2(6), 255-262.

Virgandiri, S., & dkk. (2020). Relationship Of Body Image With Eating Disorder In Female Adolescent. Jurnal Ilmu Keperawatan, 8(1), 53-59.



Selasa, 31 Agustus 2021

Junk Food, Fast Food, dan Gizi


 

Di era modern ini banyak sekali masyarakat yang memilih makanan cepat saji / fast food, hal ini dikarenakan sibuknya aktivitas yang tidak memungkinkan untuk mengolah makanan sendiri, atau dikarenakan oleh faktor gaya hidup yang tinggi sehingga banyak masyarakat yang memilih mengonsumsi makanan cepat saji / fast food. Tetapi, banyak masyarakat yang mengartikan bahwa makanan cepat saji / fast food ini merupakan junk food. Apakah benar bahwa fast food merupakan junk food?  Lalu, apa saja perbedaan antara fast food dan junk food? Yuk langsung simak saja penjelasan tentang fast food dan junk food di bawah ini.

Junk food adalah makanan yang tidak sehat (makanan sampah). Junk food memiliki kandungan lemak, kalori, garam, gula dan zat adiktif yang tinggi, kandungan serat, vitamin, dan mineral yang rendah. Hal ini membuat junk food dapat memicu berbagai penyakit yang merusak kesehatan, seperti obesitas, penyakit jantung dan kanker. Secara umum junk food adalah untuk makanan yang memiliki jumlah kandungan gizi yang terbatas. Salah satu makanan yang masuk dalam jenis ini adalah keripik kentang (banyak mengandung garam), permen, semua dessert manis, makanan fast food yang digoreng, dan minuman soda atau minuman berkarbonasi. Pada makanan yang mempunyai label junk food biasanya kandungan vitamin, protein, dan mineralnya sangat sedikit. Bila terlalu banyak mengonsumsi junk food dalam tubuh, maka akan menimbulkan banyak penyakit mulai dari penyakit ringan sampai berat seperti darah tinggi, stroke, jantung, dan kanker.

Fast food diartikan sebagai makanan yang disajikan direstoran. Pendapat lain mendefinisikan fast food adalah makanan yang tersedia dalam waktu cepat dan siap disantap, seperti fried chicken, hamburger & pizza. Makanan cepat saji (fast food) ada yg mengandung tinggi lemak, protein dan serat contohnya nasi goreng dan mie goreng makanan ini termasuk kedalam makanan cepat saji yang tidak termasuk kedalam junk food. Tidak seluruh makanan fast food masuk kedalam kategori junk food, yang membedakannya adalah dilihat dari proses pengolahannya. Junk food tidak hanya seperti ayam goreng yang disajikan di restoran-restoran cepat saji saja, tetapi semua makanan yang mengandung lemak tinggi serta proses pengolahan yang tinggi sehingga kandungan gizinya sudah hilang. Semua makanan yang dikonsumsi yang tidak memberikan manfaat bahkan justru merugikan kesehatan, dapat disebut junk food.


Adapun jenis - jenis makanan junk food yaitu sebagai berikut: Gorengan (contoh: french fries), makanan dan minuman yang mengandung gula ( contoh: minuman bersoda), makanan daging yang berlemak ( contoh: fried chicken), makanan yang berasal dari olahan keju (contoh: pizza yang mengandung krim keju), makanan manis yang beku (contoh: es krim, cake beku, dll), dan makanan yang bersumber dari daging ( contoh: burger).


Konsumsi makanan cepat saji didorong sebagai cara yang baik karena pelayanan yang cepat, rasa yang enak dan harga yang murah dibandingkan dengan restoran gaya rumah tradisional, untuk masyarakat di era modern ini. Tetapi jika terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji dapat menimbulkan dampak yang negatif, seperti: pada makanan junk food mengandung kalori,gula, dan lemak yang tinggi yang dapat menekan aktivitas peptida otak yang disebut BDNF (membantu dalam fungsi belajar dan memori), Selain itu, otak mengandung sinapsis yang bertanggung jawab untuk pembelajaran dan memori. Mengonsumsi makanan yang terlalu banyak kalori dapat mengganggu produksi sinapsis yang sehat, sehingga dapat mengganggu ingatan memori dan pembelajaran pada anak sekolah. Kelebihan kalori juga dapat menyebabkan terlalu banyak lemak pada tubuh dan akhirnya dapat menyebabkan kelebihan berat badan atau obesitas. Makanan cepat saji juga tinggi sodium. Jumlah natrium atau garam yang berlebihan dalam makanan junk food dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, osteoporosis, gagal jantung, stroke, kanker lambung, dan penyakit ginjal. Kandungan gula yang  terdapat pada makanan junk food dapat  menyebabkan gigi berlubang dan diabetes melitus tipe 2. Dan junk food tidak dapat memasok tubuh dengan nutrisi yang cukup untuk mempertahankan kesehatan yang baik karena kekurangan zat gizi mikro seperti vitamin, mineral, asam amino, dan serat yang dibutuhkan.


Untuk itu masyarakat perlu mengubah pola makan yang sehat, karena pola makan merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizi seseorang. Agar keadaan gizi seseorang baik, perlu mengatur pola makan yang sehat dengan gizi seimbang seperti menyusun makanan sehari-hari yang mengandungzat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh yaitu jenis kelamin, umur, dan status kesehatan. Prinsip gizi seimbang terdiri dari 4 pilar yaitu mengonsumsi keanekaragaman pangan, membiasakan berperilaku hidup bersih, melakukan aktivitas fisik, dan memantau berat badan secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal. Dan nutrisi merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan saat memilih makanan. Makanan cepat saji tidak ideal untuk dikonsumsi secara rutin karena memiliki nilai gizi yang rendah, sehingga tidak memenuhi kebutuhan gizi pada tubuh.


Daftar Pustaka:

George et al. 2021. Awareness on the Harmful Effects of Junk Food among College Students in Chennai. Annals of R.S.C.B., ISSN:1583-6258, Vol. 25, Issue 3, 2021, Pages. 886 - 904

Mohiuddin, Abdul Kader and M. Nasirullah. 2020. Fast Food Addiction: A Major Public Health Issue. J. Nutrition and Food Processing, 3(1); Doi:10.31579/2637-8914/017

NN Pebriyanti · 2021. Perbedaan Status Gizi Berdasarkan Konsumsi Junk Food dan Aktivitas Fisik pada Remaja di SMP Saraswati 1 Denpasar. Skripsi. Poltekkes Despasar. Bali

Ramli et al. 2021. Fast-Food Consumption Among Children According to Syari'ah Perspective. Halalsphere, Vol. 1, No. 2

Wicaksono, O Noor Raihana Putri. 2021. Pola Konsumsi Junk Food pada Remaja di Kota Bekasi. Skripsi. IPB. Bogor





Senin, 19 Juli 2021

Menjalani Liburan dengan Optimalisasi Zat Gizi Seimbang dan Aktivitas Fisik

 


Liburan merupakan masa yang sangat menyenangkan terutama bagi mahasiswa, pada umumnya masa liburan banyak dimanfaatkan untuk jalan-jalan namun pada saat ini kebijakan pemerintah memberlangsungkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Sehingga mau tidak mau liburan dilaksanakan dirumah, agar masa liburan ini dapat dimanfaatkan dengan baik berikut adalah informasi-informasi yang bisa kalian manfaatkan di masa liburan ini.

Masa liburan tentunya akan membuat kita ingin makan-makanan yang kita suka, namun jangan sampai salah dalam pola makan yang bisa berdampak pada tubuh kita. Untuk mengetahui mengenai pola makan yang benar,   kalian harus mengetahui terlebih dahulu mengenai pola makan.

Apa yang dimaksud dengan pola makan?

Menurut Kemenkes tahun 2014, Pola makan merupakan perilaku paling penting yang dapat memepengaruhi keadaan/status gizi seseorang dalam konsumsi makanan yang menetap dalam kurun waktu tertentu berdasarkan jenis,jumlah dan frekuensi makan. Mengapa pola makan ini sangat penting dikarenakan setiap kuantitas dan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi akan mempengaruhi status gizi dan kesehatan individu tersebut.

Status gizi merupakan salah satu factor penyebab baik tidaknya kebugaran jasmani yang dimiliki oleh seseorang. Kondisi seseorang akibat mengkonsumsi makanan dan zat-zat gizi dapat digolongkan menjadi tiga yaitu gizi kurang, gizi baik, dan gizi lebih yang kemudian disebut dengan istilah status gizi. (Mardalena,2017)

Bagaimana anjuran pola makan yang baik?

Pola makan yang baik menurut kemenkes tahun 2014 yaitu dengan Pedoman Gizi Seimbang, yang dimana susunan pangan yang kita konsumsi sehari-hari mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Gizi yang optimal sangat penting untuk pertumbuhan normal serta perkembangan fisik dan kecerdasan bayi, anak-anak, serta seluruh kelompok umur. Gizi baik membuat berat badan normal atau sehat, tubuh tidak mudah terkena penyakit infeksi, produktivitas kerja meningkat serta terlindung dari penyakit kronis dan kematian dini. Agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit kronis atau penyakit tidak menular terkait gizi, maka pola makan masyarakat perlu ditingkatkan kearah konsumsi gizi seimbang.

Zat gizi makronutrien yang meliputi karbohidrat, protein dan lemak berperan dalam menghasilkan energi sedangkan mikronutrien vitamin dan mineral dapat membantu metabolisme tubuh. Asupan energi dan zat gizi akan menentukan status gizi dan performa dalam melakukan aktivitas fisik. Gizi yang seimbang apabila asupan zat gizi sama dengan kebutuhan zat gizi. Tingkat kecukupan energi, protein, lemak, dan karbohidrat diperoleh dengan cara membandingkan asupan energi dan zat gizi dari pangan yang dikonsumsi selama 2x24 jam dengan angka kebutuhan gizi (AKG 2013).

 

Bagaimana mengaplikasikan Gizi Seimbang?

            Pedoman Gizi Seimbang yang telah diimplementasikan di Indonesia sejak tahun 1955 merupakan realisasi dari rekomendasi Konferensi Pangan Sedunia di Roma tahun 1992. Pedoman tersebut menggantikan slogan “4 Sehat 5 Sempurna”. Berikut sepuluh pedoman gizi seimbang menurut Kemenkes tahun 2014.


Prinsip Gizi Seimbang terdiri dari 4 (empat) Pilar yang pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memantau berat badan secara teratur.

Empat Pilar tersebut adalah:

1.     1.  Mengonsumsi Anekaragam Pangan

Yang dimaksudkan beranekaragam dalam prinsip ini selain keanekaragaman jenis pangan juga termasuk proporsi makanan yang seimbang, dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan dan dilakukan secara teratur.

Contohnya, saat ini dianjurkan mengonsumsi lebih banyak sayuran dan buah-buahan dibandingkan dengan anjuran sebelumnya. Demikian pula jumlah makanan yang mengandung gula, garam dan lemak yang dapat meningkatkan resiko beberapa penyakit tidak menular, dianjurkan untuk dikurangi. Akhir-akhir ini minum air dalam jumlah yang cukup telah dimasukkan dalam komponen gizi seimbang oleh karena pentingnya air dalam proses metabolisme dan dalam pencegahan dehidrasi.


Cara menerapkan pesan ini adalah dengan mengonsumsi lima kelompok pangan setiap hari atau setiap kali makan. Kelima kelompok pangan tersebut adalah makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, buah-buahan dan minuman. Mengonsumsi lebih dari satu jenis untuk setiap kelompok makanan (makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan) setiap kali makan akan lebih baik.


1.      2. Membiasakan Perilaku Hidup Bersih

Selain memperhatikan keanekaragaman makanan dan minuman juga perlu memperhatikan dari aspek keamanan pangan yang berarti makanan dan minuman itu harus bebas dari cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan masyarakat. Seseorang yang menderita penyakit infeksi akan mengalami penurunan nafsu makan sehingga jumlah dan jenis zat gizi yang masuk ke tubuh berkurang. Budaya perilaku hidup bersih akan menghindarkan seseorang dari keterpaparan terhadap sumber infeksi.

2.  3. Memantau Berat Badan (BB) secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal dengan indikator yang dikenal dengan Indeks Masa Tubuh (IMT).

3.      4. Melakukan aktivitas fisik.

Aktivitas fisik yang meliputi segala macam kegiatan tubuh termasuk olahraga merupakan salah satu upaya untuk menyeimbangkan antara pengeluaran dan pemasukan zat gizi utamanya sumber energi dalam tubuh. Sel-sel otot pada usia muda mempunyai kelenturan yang optimal dan mulai menurun pada usia lanjut. Kontraksi dan relaksasi otot menjadi berkurang seiring bertambah usia. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik yang ringan seperti berjalan-jalan, bersepeda, berkebun dan melakukan olah raga ringan seperti yoga, senam yang berfungsi membantu kelenturan otot dan relaksasi otot. Selain itu, aktivitas fisik juga memperlancar sistem metabolisme di dalam tubuh termasuk metabolisme zat gizi. Oleh karenanya, aktivitas fisik berperan dalam menyeimbangkan zat gizi yang keluar dari dan yang masuk ke dalam tubuh. Dasar sederhana adalah mempertahankan berat badan normal, seimbang kalori yang dimakan dan kalori yang digunakan (dibakar). Karena itu pola konsumsi makanan yang sehat disertai aktivitas fisik akan membantu mengontrol berat badan, sehingga badan akan menjadi lebih sehat. Asupan energi yang berlebih dan tidak diimbangi dengan pengeluaran energi yang seimbang (dengan kurang melakukan aktivitas fisik) akan menyebabkan terjadinya penambahan berat badan.

Aktivitas fisik yang rendah adalah salah satu faktor pemicu obesitas. Aktivitas fisik dikategorikan cukup jika individu melakukan olahraga selama 30 menit setiap hari atau minimal 3-5 hari dalam seminggu (Kemenkes 2014)





Daftar Pustaka:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Angka kecukupan gizi bagi Bangsa Indonesia 2013. Jakarta, Indonesia: Kemenkes RI..

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Pedoman gizi seimbang. Jakarta, Indonesia: Kemenkes RI

Mardalena I. Dasar-Dasar Ilmu Gizi Dalam Keperawatan (Pertama). Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2017.