Rabu, 07 Juli 2021

Apakah Susu Bear Brand dapat Mencegah Covid-19?

 


Beberapa waktu ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kelangkaan produk Bear Brand. Bear Brand atau yang sering dikenal dengan sebutan susu beruang merupakan suatu produk susu sapi steril yang saat ini sedang gencar-gencarnya diburu oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan banyak orang menyakini bahwa minuman kaleng susu bear brand dapat mengobati seseorang yang terkena COVID-19. Lalu apakah benar susu bear brand ini dapat mencegah kita dari Covid–19 ? Agar lebih jelasnya yuk kita simak pembahasan mengenai susu beruang yang sedang ramai dibicarakan oleh masyarakat Indonesia saat ini.

Bear Brand adalah merek susu steril produk Nestle yang bereputasi sebagai perusahaan steril, higienis, dan sehat di antara beberapa produsen susu di dunia.

Susu merupakan bahan makanan dengan nilai gizi tinggi yang diperoleh dari pemerahan hewan (termasuk sapi). Untuk memperpanjang umur simpan produk susu, maka perlu dilakukan pengolahan sebelum dikonsumsi. Susu steril adalah produk susu yang diperoleh dengan membunuh mikroorganisme hingga spora - sporanya. Proses sterilisasi dilakukan dengan memanaskan susu pada suhu 1210 C selama 15 menit.

Melihat kasus Covid-19 di Indonesia yang semakin tinggi, maka untuk mencegah tubuh terserang oleh virus corona yaitu salah satunya dengan menjaga sistem kekebalan tubuh. Lalu, melihat hal tsb, apakah susu Bear Brand dapat mencegah dari Covid – 19?

Melihat fenomena ini, adapun ahli dari Amerika yaitu Faheem Younus, seorang pakar penyakit menular dari University of Maryland Upper Chesapeake Health, berpendapat bahwa susu Bear Brand bukanlah suatu obat yang digunakan untuk menyembuhkan suatu penyakit. Sudah dari lama kabar bahwa susu Bear Brand ini diyakini dapat mengatasi berbagai penyakit.


Kandungan gizi pada susu sapi umumnya yaitu air, lemak, protein, laktosa, vitamin A, vitamin B, vitamin D, kalsium, phospor, riboflavin, imonoglubulin (Igs), lisozom, peptida, oligosakarisa, sitokin, laktoferin, dsb. Lalu jika dillihat dari nilai gizi susu Bear Brand sendiri juga tidak jauh berbeda dengan kandungan gizi susu sapi lainnya. Tetapi, jika hanya mengkonsumsi susu Bear Brand saja tidak cukup untuk meningkatkan imun pada tubuh. Dalam susu sterilisasi sebagian imunoglobulinnya memang ada, tetapi imunoglobulin ini akan rusak ketika melakukan proses pemanasan. Imunoglobulin terbaik terdapat pada ASI yang terdapat pada kolostrum, yang hanya dikeluarkan melalui kelenjar payudara ibu yang baru melahirkan pada hari pertama hingga hari 3–5 hari setelah melahirkan. Kolostrum ASI ini mengandung imunoglobulin yang dapat meningkatkan imun tubuh, pada kolostrum ASI juga ditemukan antibodi spesifik SARS – CoV-2 yang dapat mencegah dari infeksi virus.

Manfaat susu Bear Brand sama seperti susu sapi lainnya, yaitu dapat mengandung antibodi spesifik, dapat memberikan efek sinergis pada aktivitas faktor antimikroba, selain itu imunoglobulin yang terkandung pada susu sapi ini secara fungsional dapat mencegah infeksi saluran pernafasan dan infeksi saluran pencernaan pada manusia.

Untuk dapat meningkatkan sistem imun, kita tidak hanya berpatokan pada satu jenis makanan saja, tetapi perlu juga mengkonsumsi jenis makanan lainnya. menerapkan gizi seimbang dalam kehidupan sehari – sehari seperti memenuhi kebutuhan karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral sesuai dengan kebutuhan sehari – hari. Selain itu, untuk mencegah Covid – 19 ini dengan menerapkan 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan aktivitas, menjaga jarak minimal 1 meter, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.



Daftar Pustaka:

Amalia, Lia dkk. 2020. Analysis of Clinical Symptoms and Immune Enhancement to Prevent COVID-19 Disease. Jambura Journal. Vol. 2, No. 2.

Hendrawati, Tri Yuni dan Suratmin Utomo. 2017. Optimalisasi Susu dan Waktu Sterilisasi pada Kualitas Susu Segar di Kabupaten Boyolali. Jurnal Teknologi Universitas Muhammadiyah Jakarta. Volume 9, No. 2.

Rizal, Muhammad Saiful dkk. 2016. Pengaruh Waktu dan Suhu Sterilisasi Terhadap Susu Sapi Rasa Coklat. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian “ARGIKA”. Volume 10, Nomor 1.

https://www.instagram.com/p/CQ4rC6xjnSR/?utm_source=ig_web_copy_link

https://www.instagram.com/p/CQ5B0LjsNsO/?utm_source=ig_web_copy_link


Jumat, 02 Juli 2021

Cara Pembacaan Label Informasi Nilai Gizi pada Kemasan Makanan & Minuman

 


Label makanan merupakan hal penting yang perlu dicantumkan dalam kemasan suatu produk, hal ini tersebut karena melalui label pada kemasan makanan dan minuman, konsumen dapat memutuskan kesesuaian suatu produk yang akan dikonsumsi untuk kesehatannya.

Label pangan kemasan berisi sekurang-kurangnya tujuh informasi, yaitu nama produk, berat bersih atau isi bersih, nama dan alamat pihak yg memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia, komposisi atau daftar bahan, keterangan kadaluarsa, nomor pendaftaran, tanggal dan atau kode produksi. Dengan demikian, membaca label dapat membantu konsumen dalam memilih pangan yang aman dan sesuai dengan kebutuhannya. Namun, sebenarnya konsumen dapat membatasi pangan tersebut dan memilih pangan yang sesuai dengan kebutuhannya, jika cermat mengenalinya melalui label pada kemasan pangan.

Menurut Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 67/-DAG/PER/11/2013, label adalah deskripsi setiap gambar, tulisan, kombinasi dari dua atau bentuk informasi lain yang berkaitan dengan produk, yang memuat produk yang bersangkutan dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini.  Peraturan perundang-undangan menetapkan bahwa semua makanan kemasan harus memiliki label, yang berisi informasi tentang isi, jenis dan jumlah, umur simpan, dan kandungan gizi bahan, dinyatakan dalam jumlah dan dinyatakan sebagai persentase dari tingkat kecukupan gizi yang direkomendasikan untuk setiap porsi, dan informasi penting lainnya (seperti sifat kehalalan produk) agar konsumen dapat memahami kandungan gizi dan kelayakan makanan kemasan.

Pencantuman informasi nilai gizi pada produk pangan diharapkan dapat membantu konsumen dalam mengatur asupan gizi mereka. Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji. Peraturan tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko PTM di Indonesia.

Informasi nilai gizi merupakan bagian dari label pangan. Ketika informasi yang ada tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik, maka pengaturan pola makan juga tidak dapat dilakukan dengan baik dan dapat berimbas pada kondisi kesehatan.

Nilai gizi pada makanan kemasan bertujuan untuk memberikan informasi terkait zat gizi yang terkandung dalam makanan tersebut. Informasi ini dapat membantu dalam menjaga berat badan dan memilih makanan dengan bijak. Pada label nilai gizi juga dicantumkan informasi tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG), yaitu rata-rata angka kecukupan gizi harian semua orang menurut kelompok umur, jenis kelamin, tipe tubuh, aktivitas fisik, dan kondisi fisiologis khusus yang ingin dicapai. kesehatan yang optimal.

Rendahnya kebiasaan membaca label makanan membuat konsumen memilih makanan yang tidak sehat sehingga menurunkan derajat kesehatannya. Konsumen yang tidak membaca label makanan mengonsumsi kadar lemak, kolesterol, dan gula yang lebih tinggi daripada konsumen yang membacanya. Kepatuhan membaca label informasi dan gizi rendah disebabkan oleh terhambatnya upaya pencarian informasi. Salah satu kendala adalah kurangnya minat terhadap informasi, yang mungkin disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang label. Informasi tentang nutrisi dan label bahan lebih luas dan kompleks. Selain itu, terminologi yang digunakan sulit dan asing bagi masyarakat. Banyak konsumen yang tidak yakin Informasi nutrisi penting. Beberapa konsumen tidak yakin bahwa asupan nutrisi seperti gula, garam dan lemak akan berdampak pada kesehatan, sementara ada konsumen yang tidak mengetahui istilah dalam label nutrisi seperti natrium, sodium, dsb. Rendahnya kebiasaan membaca label pangan membuat konsumen memilih makanan yang tidak sehat sehingga menurunkan kondisi kesehatan. Mereka yang tidak membaca label pangan mengonsumsi lebih tinggi lemak kolesterol, dan gula dibandingkan dengan yang membaca label.

Ketika nutrisi dalam produk yang dikonsumsi diketahui dengan jelas, diet sehat dapat dirumuskan. Informasi gizi dalam makanan olahan dapat dilihat pada label makanan, terutama pada panel informasi nilai gizi. Namun bila informasi yang ada tidak digunakan dengan benar, penyesuaian pola makan tidak dapat diselesaikan dengan benar, dan dapat berdampak pada kondisi kesehatan.

Yuk kita bahas bagaimana cara memahami informasi nilai gizi pada kemasan suatu produk makanan dan minuman, sebagai berikut:

1.    1.   Sajian per kemasan

Hal pertama yang perlu diperhatikan yaitu sajian per kemasan pada suatu produk. Seperti pada kemasan tertera satu bungkus, satu botol, atau satu kemasan produk bisa terbagi atas satu atau beberapa sajian. Misalnya, dalam kemasan menemukan tulisan, “5 sajian per kemasan”. informasi nilai gizi ini memiliki arti bahwa makanan tersebut bisa dinikmati dalam 5 takaran saji (5 kali konsumsi).

Nah, perlu untuk diingat bahwa tabel informasi nilai gizi suatu makanan biasanya menyajikan data untuk satu sajian – bukan untuk satu kemasan. Jika di label tertulis, “5 sajian per kemasan”, maka harus mengalikan kalori dan masing-masing kadar nutrisi dengan angka 5 sesuai dengan yang tercantum dalam kemasan tersebut.

2.      2. Kalori

Untuk mendapatkan informasi terkait kalori dari makanan olahan suatu produk, maka harus merujuk pada sajian per kemasan. Jika satu produk memiliki 5 sajian per kemasan, lalu tercantum pada informasi nilai gizi bahwa satu sajian menyumbang 200 kalori, maka konsumen akan mengonsumsi 1000 kalori jika menghabiskan satu makanan kemasan tersebut (200 kalori x 5 sajian).

3.      3. Nutrisi yang perlu untuk dibatasi

Beberapa kandungan yang perlu dibatasi yaitu natrium (sodium), lemak jenuh (saturated fat), lemak trans (trans fat), dan gula tambahan (added sugar). Kalikan kadar masing-masing nutrisi dengan sajian per kemasan dan konsumen akan mendapatkan angka yang sebenarnya.

4.      4. Nutrisi yang penting bagi tubuh

Makanan kemasan juga menawarkan nutrisi yang krusial bagi tubuh. Beberapa nutrisi penting yang bisa konsumen perhatikan kadarnya dalam suatu produk, yaitu:

a.       Serat pangan (dietary fiber), penting untuk kesehatan sistem pencernaan

b.      Kalsium (calcium), krusial demi menjaga tulang tetap sehat dan kuat

c.       Kalium (potassium), penting untuk pengendalian tekanan darah

d.      Vitamin D, juga penting untuk kesehatan tulang

e.       Zat besi (iron), menjadi nutrisi yang vital dalam produksi hemoglobin (protein dalam sel darah merah), dll.

Untuk membandingkan produk yang mengandung tinggi kadar nutrisi penting di atas, konsumen juga harus mengalikannya dengan jumlah sajian per kemasan.

5.      5. Angka Lecukupan Gizi (AKG) harian

Persentase Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian merupakan informasi rekomendasi kebutuhan tiap-tiap nutrisi dalam satu hari. AKG tersebut disajikan dalam satuan berat (gram, miligram, mikrogram) serta dalam bentuk persentase.

Nutrisi dengan persentase AKG-nya sekitar 6% atau kurang per sajian digolongkan sebagai persentase yang rendah. Sementara itu, persentase AKG di atas 20% per sajian digolongkan sebagai persentase yang tinggi.

6.     6.  Perhatikan  gula pada produk kemasan

Pengkonsumsian gula yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti diabetes tipe 2 hingga obesitas. Banyak produk olahan yang mengandung tinggi gula yang diberikan pada suatu produk olahan. Adapun macam – macam gula yang sering digunakan pada produk olahan yaitu: fruktosa, maltosa, maltol etil, maltodextrin, glukosa, malt bubuk, dekstran, sirup mapel, dll.

7.     7.  Melakukan perbandingan suatu produk dengan produk lainnya

Setelah memahami poin-poin terkait informasi nilai gizi dan label makanan di atas, konsumen dapat membandingkan satu produk dengan produk lain. Gunakan indikator informasi nilai gizi di atas demi mendapatkan produk yang sekiranya ‘lebih sehat’, termasuk dari kalori, kadar nutrisi baik, dan kadar nutrisi yang perlu dibatasi seperti natrium, lemak jenuh, lemak trans, dan gula.


Daftar Pustaka:

Fitri, Nurul, dkk. 2020. Pengetahuan dan Kebiasaan Membaca Label Informasi Nilai Gizi pada Makanan Kemasan Tidak Berhubungan dengan Status Gizi pada Mahasiswa Asrama Kutai Kartanegara di Yogyakarta. Gizido. Volume. 12, No. 1.

Maulida, Arina Zulfa. 2019. Hubungan Pengetahuan dengan Tingkat Kepatuhan Membaca Label Pangan pada Mahasiswa Gizi UIN Walisongo Semarang. Skripsi. UIN Walisongo. Semarang.

Ningrum, Ariana Kusuma. 2015. Pengetahuan Label Kemasan Pangan. Malang: Penerbit Gunung Samudera.

Prawira, I Kadek Putra, dkk. 2016. Korelasi Informasi Nilai Gizi terhadap Keputusan Pembelian Biskuit dan Kukis oleh Konsumen Jakarta dan Sekitarnya. Jurnal Mutu Pangan, Vol. 3(2): 138-144.



Minggu, 16 Mei 2021

Fasting and Weight

 

FASTING AND WEIGHT


Puasa merupakan salah satu dari rukun Islam yang keempat. Nah, kita mempunyai kewajiban untuk berpuasa yang sudah tertera dalam Q.S. Al-Baqarah Ayat 1803 yang sudah menerangkan tentang kewajiban kita untuk berpuasa, terutama puasa ramadhan yang baru saja selesai kita laksanakan.

Puasa merupakan suatu ibadah untuk menahan diri dari makan, minum, dan menahan semua hal yang bisa membatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Dalam suatu buku konseling pun dijelaskan tentang puasa itu merupakan latihan untuk menahan nafsu, syahwat, dan mendorong seseorang untuk berbuat kebaikan, baik berdasarkan perkataan, perbuatan, melatih kesabaran, tanggung jawab, dan memecahkan suatu permasalahan.

Apa saja sih hal yang akan terjadi saat kita berpuasa?


Adakah yang merasa mengalami penurunan asupan makanan? Atau adakah yang merasa makan lebih sedikit? Penurunan asupan makanan dapat terjadi karena perubahan dari pola makan dari yang biasanya 3 kali sehari menjadi 2 kali sehari. Perubahan pola makan tersebut akan menyebabkan perubahan pada tubuh, cara makan, dan besaran asupan yang dikonsumsi, serta waktu.

Waktu saat kita sahur adalah waktu dimana biasanya kita belum melakukan sarapan ataupun makan besar. Tentunya hal tersebut akan menimbulkan rasa malas untuk makan dan akhirnya membuat kita mengurangi asupan makanan. Ada juga yang akhirnya saat berbuka puasa mengalami makan yang amat banyak karena merasa harus mencukupi asupan makanan yang kurang selama menjalankan ibadah puasa.

Perubahan asupan makanan akan menyebabkan perubahan metabolisme pada tubuh yang biasanya pada saat normal menggunakan sumber energi yang berasal dari glukosa. Pada saat berpuasa, ketika glukosa sudah habis, sumber energi diperoleh dari glikogen atau glukosa dalam otot yang merupakan salah satu cadangan energi. Selain itu, cadangan energi lain selain glikogen adalah lemak. Jadi, ketika cadangan energi tersebut dipakai untuk melakukan aktivitas maka berat badan kita akan mengalami penurunan.

Produksi asam lambung pada saat berpuasa juga akan mengalami penurunan karena tubuh tidak melakukan proses pencernaan makanan. Saat berpuasa juga terjadi penahanan produksi insulin dari pankreas yang akan menyebabkan pelepasan cadangan gula dari hati dan otot.

Pada saat berpuasa, tubuh juga mengalami penurunan asupan cairan. Sekitar 80% penyusun tubuh kita adalah cairan. Oleh karena itu, kita perlu memenuhi asupan cairan dengan minum minimal 8 gelas per hari yang satu gelasnya setara dengan 250 ml. Apabila tidak minum air yang cukup, tubuh akan terasa lemas saat siang hari serta mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan. Ada anjuran untuk kita minum air putih dengan pola 2-4-2, yaitu 2 gelas saat berbuka puasa, 4 gelas saat makan malam, dan 2 gelas saat sahur.

Puasa bikin BB naik atau turun?


Behnam (2012) dalam penelitiannya tentang ‘Islamic fasting and weight loss: a systematic review and meta-analysis’ menyatakan bahwa puasa ramadhan menurunkan berat badan, namun berat badan akan kembali setelah ramadhan usai.

Mumun M. (2013) yang meneliti tentang ‘puasa ramadhan dan obesitas’ menyatakan bahwa puasa ramadhan dapat menurunkan berat badan 3,06 kg, sedangkan yang tidak puasa mengalami kenaikan 0,1 kg. Aktivitas olahraga dapat menurunkan berat badan 2,35 kg, sedangkan yang tidak melakukan olahraga mengalami penurunan 0,66 kg.

Krista A. (2013) dalam penelitiannya tentang ‘Alternate day fasting for weight loss in normal weight and overweight subjects: a randomized controlled trial’ menyatakan bahwa puasa efektif dalam menurunkan berat badan. Dalam penelitian ini, responden mengalami penurunan berat badan sebanyak 5,2 kg setelah berpuasa. Johnstone (2015) dalam penelitiannya ‘Fasting for weight loss: an effective strategy or latest dieting trend?’ juga menyatakan bahwa puasa lebih cepat menurunkan berat badan.

Putu A. (2020) yang meneliti tentang ‘Pengaruh puasa berselang terhadap berat badan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana’ menyatakan bahwa puasa berselang berpengaruh pada penurunan berat badan pada kelompok yang berpuasa.

Puji L. (2020) dalam penelitiannya tentang ‘Gambaran pola konsumsi makanan mahasiswa di bulan ramadhan’ menyatakan bahwa pada saat puasa aktivitas fisik menurun, nafsu makan menurun, serta konsumsi buah dan sayur yang rendah.

Berdasarkan semua hasil uji literasi diatas, mayoritas menyebutkan bahwa puasa memang dapat menurunkan berat badan. Dalam konteks puasa selama ramadhan, puasa bisa menurunkan atau menaikkan berat badan tergantung dari makanan yang dikonsumsi, seberapa banyak makanan yang diasup, dan pola konsumsi makanan.

Bagaimana anjuran saat menjalankan puasa?


Ada beberapa anjuran saat kita menjalankan puasa, terutama ketika sahur kita perlu mengonsumsi makanan yang mempunyai kadar karbohidrat kompleks yang tinggi, seperti sayur, buah, daging, susu/olahan susu, serta makanan yang mengandung gula dan lemak yang baik. Kemudian makanan yang kaya akan serat juga perlu dikonsumsi, seperti biji-bijian dan juga bisa dari sayuran. Kandungan karbohidrat dan serat yang tinggi pada makanan dapat membuat kita merasa kenyang lebih lama.

Apa saja jenis makanan yang perlu dikonsumsi saat berbuka puasa? Kita harus memilih makanan yang mengandung gula tidak terlalu banyak/gula baik serta jangan memilih makanan yang mengandung karbohidrat yang mudah terurai seperti tepung-tepungan, makanan yang digoreng, makanan yang terlalu asin, dan lainnya.

Untuk mengatur makanan agar mempunyai gizi seimbang sesuai dengan yang kita butuhkan sesuai dengan aturan pembagian makanan dalam ‘Isi Piringku’ adalah ½ porsi piring makan terdiri dari sayur dan buah-buahan yang beragam jenis dan warna, ¼ piring makan diisi dengan protein (ikan, ayam, daging, kacang-kacangan, dan lainnya), ¼ piring makan diisi dengan karbohidrat/makanan pokok (biji-bijian utuh, nasi, gandum, jagung, dan lainnya).

Selain itu kita juga perlu menghindari konsumsi makanan yang berlemak, harus cukup minum air putih (sebanyak 8-10 gelas dalam sehari), dan melakukan berbagai aktivitas fisik ringan, seperti jalan kaki, yoga, atau sekedar berkebun/menanam bunga dan sejenisnya yang setidaknya dapat membuat kita melakukan olahraga atau aktivitas fisik 30 menit dalam sehari. Makanan/minuman yang mengandung kafein (seperti kopi atau teh) juga perlu dihindari karena dapat membuat kita lebih sering buang air kecil.

Kita perlu menghindari makanan yang berbumbu tajam, seperti cabe atau makanan yang mempunyai rasa asam. Karena saat mengonsumsi makanan yang terlalu pedas atau terlalu asam dapat meningkatkan resiko terjadi infeksi pada bagian pencernaan. Begitu juga saat kita mengonsumsi makanan berlemak, seperti gulai atau kari.

Konsumsi sayur dan buah saat berpuasa sangat diperlukan karena sayur dan buah banyak mengandung vitamin, mineral, dan vitonutrien yang dapat membantu agar terhindar dari rentan sakit. Contoh buah yang mengandung banyak cairan yang dapat dikonsumsi saat berbuka puasa yaitu semangka, melon, pepaya, dan lainnya.

Minggu, 09 Mei 2021

Tetap Sehat Pasca Puasa dan Hari Raya

 


TETAP SEHAT PASCA PUASA DAN HARI RAYA



Idul Fitri adalah hari besar keagamaan dan sebagian besar umat Islam Indonesia akan berpartisipasi dalam hari raya ini. Idul Fitri atau  Lebaran yang ada di Indonesia adalah hari libur Muslim dan termasuk dalam kalender Syawal pertama Hijriah. Selama liburan ini, sebagian besar masyarakat Indonesia berkumpul dengan keluarganya dan  makan  bersama. Hidangan khas Idul Fitri memang berbeda-beda di setiap daerah atau suku di Indonesia, namun yang paling umum adalah ketupat dan opor ayam. Selain hidangan tersebut, biasanya terdapat hidangan seperti kue kering dan jajanan pasar.  Sebagian besar hidangan hari raya ini, mengandung tinggi lemak, tinggi garam, tinggi gula dan rendah serat. Hal ini akan mempengaruhi peningkatan asupan energi. 

Selama bulan puasa, meski frekuensi makan dan asupan makanan berkurang, orang-orang cenderung mengonsumsi makanan kaya lemak dan protein. Kebiasaan makan ini akan berlanjut hingga setelah lebaran. Jika orang-orang membiarkan kebiasaan ini, maka BMI (indeks massa tubuh) akan meningkat, sehingga membuat orang cenderung kelebihan berat badan atau obesitas. Kegemukan atau obesitas merupakan faktor risiko terjadinya penyakit degeneratif, sehingga diperlukan tindakan pencegahan.

Overweight dan obesitas terjadi karena pola konsumsi pangan yang tidak baik (asupan densitas energi yang tinggi, tinggi lemak, dan rendah serat), rendahnya aktifitas fisik juga mempengaruhi terjadinya overweight dan obesitas pada sesorang. Selain itu terdapat faktor lain yang menyebabkan terjadinya overweight dan obesitas yaitu stres, kurang tidur, penggunaan obat-obatan tertentu, dan genetik riwayat keluarga. 

Tips makan sehat saat lebaran, yaitu sebagai berikut :

1.  Ketika memasak daging, pilihlah daging yang rendah lemak. Hal ini karena daging rendah lemak memiliki kandungan lemak jenuh yang rendah.

·       Ayam terdapat pada bagian dada (tanpa kulit).

·       Sapi terdapat pad bagian has luar dan has dalam.

·       Kambing terdapat pada bagian has dalam, area punggung dan kaki.

2.  Ikan bisa dijadikan alternatif dalam menu lebaran, ikan mengandung PUFA (omega 3), besi, kalsium, seng, fosfor, selenium iodiom, flour, vitamin D. Selain itu, mengkonsumsi ikan dapat menurunkan resiko terhadap penyakit kardiovaskuler.

3. Membatasi penggunaan minyak dan santan dalam proses pengolahan bahan makanan. Penggunaan santan bisa digantikan dengan susu skim / fiber creamer.

4.   Jangan lupa mengkonsumsi buah dan sayuran saat lebaran. Sayuran dan buah-buahan memiliki kandungan serat, vitamin, mineral, dan komponen fitokimia lainnya.

5.  Hindari lapar mata pada makanan, atur porsi dan waktu makan. Tetap terapkan porsi sesuai dengan kebutuhan sehari-hari dengan waktu makan 3 kali makan utama dan 2 kali selingan.

6.   Bijak dalam mengkonsumsi snack. Saat lebaran umumnya keinginan untuk memakan camilan yang tinggi, sehingga pengkonsumsian snack tidak terkontrol.

7.      Ingat 4 pilar gizi seimbang.

·         Pilar 1 : mengonsumsi makanan yang beraneka ragam

·         Pilar 2 : biasakan prilaku hidup bersih dan sehat

·        Pilar 3 : mempertahankan dan memantau berat badan normal secara rutin

·         Pilar 4 : Melakukan aktifitas fisik


 

Pedoman Gizi Seimbang




Contoh Menu Sehari Saat Lebaran

Waktu Makan

Menu Makanan

URT

Pagi

(475 kkal)

Ketupat

½ buah

Opor Ayam

1 potong sedang

Tumis Wortel dan Sawi

1 mangkok

Pisang Ambon

1 buah kecil

Selingan

(290 kkal)

Kue Nastar

3 buah

Kue Keju

2 buah

Jus Jeruk

1 gelas

Siang

(625 kkal)

Nasi

1 piring

Daging Rendang

1 potong sedang

Tempe Oreg

3 sdm

Cah Kangkung

1 mangkok

Melon

1 potong

Selingan

(323 kkal)

Putri Salju

3 buah

Rempeyek Kacang

2 buah

Salad Buah

1 mangkok kecil

Malam

(500 kkal)

Nasi

1 piring

Pepes Ikan

1/3 ekor sdg

Capcay Sayur

1 mangkok  kecil

Tempe Goreng

1 potong

Jeruk Manis

1 buah

Total Energi = 2.213 kkal

 

Daftar Pustaka


Sefrina, Linda Riski dkk. 2020.  Upaya Peningkatan Kesehatan Masyarakat Melalui Webinar “Sehat dan Bugar Menyambut Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid – 19”.  Jurnal Abdimas Kesehatan Tasikmalaya. 2:  5 - 8.

 

Khoiriyah, Nur. 2021. Menu Sehat Tradisi Hari Raya. Prosiding dari Serial Webinar Gizi Kesehatan di Bulan Suci Ramadhan “Nutrition in Ramdhan : A Golden Key To Healthier Lifestyle”. Nutrition Science Banyuawangi Institute of Health Science 2021.