Kamis, 29 September 2022

Serba Serbi Tentang Anemia

 

Serba Serbi Tentang Anemia



Anemia secara umum dapat didefinisikan sebagai kurangnya konsentrasi kadar Hb (hemoglobin) yang ada di dalam tubuh. Hemoglobin adalah protein yang mengandung zat besi di dalam sel darah merah yang dapat berfungsi sebagai pengangkut O2 (oksigen) dari paru-paru menuju seluruh tubuh.

Menurut Dallman, Anemia defisiensi besi (ADB) adalah defisiensi zat besi (Fe) yang menyebabkan adanya konsentrasi hemoglobin di bawah 95 % dari nilai Hb rata-rata dari umur dan jenis kelamin yang sama. ADB merupakan masalah defisiensi nutrien yang paling banyak pada anak di seluruh dunia terutama di daerah berkebang seperti Indonesia.

Prevalensi anemia di dunia diperkirakan mencapai 1,32 miliar jiwa atau sekitar 25% dari populasi manusia dan sebanyak 44,4 % berasal dari benua afrika, 25%-33% dari benua asia, dan 7,6 % berasal dari Amerika Utara. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, anemia gizi besi merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi 48,9% di Indonesia dengan proporsi anemia pada kelompok 15-24 tahun dan 25-34 tahun.  Hal tersebut menunjukkan anemia dapat dikategorikan sebagai penyakit dengan penderita yang masih tinggi.

Faktor utama penyebab masalah anemia adalah asupan zat gizi yang kurang. Sebesar 2/3 zat besi di dalam tubuh terdapat dalam sel darah merah hemoglobin. Adapun faktor lain yang menyebabkan anemia adalah seperti pola konsumsi alkohol dan rokok, kebisaan minum teh dan kopi, menstruasi berlebih pada perempuan, dan kehilangan darah akibat pendarahan.

Wahyuni, AS (2004) menjelaskan bahwa penanggulangan anemia telah dilakukan dalam beberapa strategi Operasional Suplementasi serta Strategi Fortifikasi. Suplementasi diberikan dalam bentuk pemberian multivitamin yang mengandung berbagai zat gizi seperti zat besi, asam folat, vitamin A, dan vitamin C. Penanggulangan melalui suplementasi zat besi-folat yang dilakukan secara rutin selama jangka waktu tertentu dilakukan dalam meningkatkan kadar hemoglobin secara cepat.

 

Daftar Pustaka

 

Auliana, R. (2016). Anemia Gizi Besi, Pencegahan dan Penanggulangannya. Tahun XVII, Nomor 1, Februari 201672.

Budiarti, A., Anik, S., & Wirani, N. P. G. (2021). Studi Fenomenologi Penyebab Anemia Pada Remaja Di Surabaya. Jurnal Kesehatan Mesencephalon, 6(2).

Fitriany, J., & Saputri, A. I. (2018). Anemia defisiensi besi. AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh, 4(2), 1-14.

Kasumawati, F., Holidah, H., & Jasman, N. A. (2020). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Putri Serta Paparan Media Informasi Terhadap Perilaku Pencegahan Anemia Di Sma Muhammadiyah 04 Kota Depok. Edu Dharma Journal: Jurnal penelitian dan pengabdian masyarakat4(1), 1-9.

 

 

Rabu, 28 September 2022

COKELAT BIKIN GOODMOOD TANPA JADI GEMUK??

 



COKELAT BIKIN GOODMOOD TANPA JADI GEMUK??

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Coklat merupakan makanan yang berasal dari tumbuhan kakao (Theobroma cacao L.) dan memiliki beberapa olahan seperti coklat pahit, coklat putih, dan coklat susu. Rasa manis pada coklat seringkali dijadikan pelampiasan di kala badmood, namun tak jarang masyarakat beranggapan bahwa coklat menjadi salah satu penyebab kegemukan.

Rasa manis pada cokelat batangan yang dikonsumsi oleh masyarakat merupakan hasil pengolahan biji kakao dalam bentuk bubuk (cocoa powder), pasta (cocoa liquor) atau lemak cacao (cocoa butter) yang dicampur dengan bahan tambahan lain termasuk gula. Kandungan di dalam coklat (100 gr) terdiri dari energi sebanyak 527 kalori, karbohidrat 63 gram, protein 2 gram, dan lemak 30 gram.



 

 

 

 

 

 

 

Saat mengonsumsi coklat, Zat tambahan pada coklat seperti gula akan menimbulkan rasa ketagihan yang dapat memicu jalur penghubung ke otak dan berinteraksi dengan zat kimia otak yaitu enkephalin. Enkephalin sendiri yakni bahan kimia otak alami yang dapat mengaktifkan reseptor opioid (reseptor dari morfin). Saat Mengonsumsi cokelat akan meningkatkan kadar enkephalin sehingga tubuh membutuhkan untuk mengonsumsi coklat dengan kadar berlebih.selain enkephalin juga terdapat theoboromine yang apabila dikonsumsi bersama kafein akan menimbulkan efek positif pada suasana hati seseorang dan adanya dorongan afrodisiak.

Kecanduan cokelat itulah yang akan berdampak baik atau buruk ke kesehatan pengkonsumsi. Mengkonsumsi cokelat terbukti memiliki banyak manfaat yang telah terbukti (Gonzales,1998). Selain meningkatkan suasana hati bagi pengkonsumsinya, cokelat juga bermanfaat untuk menurunkan risiko stroke, kesehatan jantung yang lebih baik, sistem kekebalan tubuh yang tangguh, dan fungsi otak yang lebih baik. Namun, mengkonsumsi cokelat dalam jumlah yang besar per harinya dapat meyebabkan obesitas, jerawat, diabetes, tekanan darah tinggi, perubahan suasana hati, refluks asam, mulas, dan risiko kecanduan.

Kelebihan mengkonsumsi coklat seperti kegemukan atau obesitas karena mengkonsumsi cokelat terjadi ketika AKG (Angka Kecukupan Gizi) orang tersebut sudah tercukup namun menambah konsumsi coklat secara berlebih dimana cokelat batangan tinggi akan kalori, lemak dan gula. Sementara itu, pada orang yang AKG-nya belum tercukupi atau kurang maka mengkonsumsi cokelat yang berlebih tidak akan berdampak ke kesehatannya.

Jadi, cokelat dapat meningkatkan suasana hati menjadi lebih baik karena kafein di dalamnya dapat bereaksi dengan theobromine yang memiliki efek positif pada susasana hati dan juga menyebabkan dorongan afrodisiak. Dorongan afrodisiak tersebut yang dapat menimbulkan kecanduan konsumsi cokelat. Konsumsi cokelat yang belebihan dapat menyebabkan kegemukan apabila mengkonsumsi cokelat saat AKG orang tersebut sudah tercukupi.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Suwahono. 2022. Zat Aditif Dan Adiktif Pada Makanan: Coklat Bikin Good Mood Tanpa Jadi Gemuk?. Diskusi series chapter 3, (p. 1-5)

 

Claresta, L., & Purwoko, Y. (2017). Pengaruh Konsumsi Cokelat Terhadap Tingkat Kecemasan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Praujian. Jurnal Kedokteran Diponegoro, 6 (2): 737-747.

 

Sudibyo, A. (2012). Peran Coklat Sebagai Produk Pangan Derivat Kakao Yang Menyehatkan. Jurnal Riset Industri, 6 (1): 23-40.

 

Jumat, 02 September 2022

MANFAAT BUAH ALPUKAT BESERTA DAUNNYA

 

MANFAAT BUAH ALPUKAT BESERTA DAUNNYA



Tanaman alpukat berasal dari dataran rendah  ataupun dataran tinggi di Amerika Tengah dan diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-18. Secara resmi antara tahun 1920-1930 Indonesia telah mengintroduksi 20 varietas alpukat dari Amerika Tengah dan Amerika Serikat untuk memperoleh varietas-varietas unggul guna meningkatkan kesehatan dan gizi masyarakat, khususnya di daerah dataran tinggi. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat yang sangat penting dan dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk pengobatan seperti sariawan, kencing batu, darah tinggi, kulit muka kering sakit gigi, bengkak karena perandangan dan kecing manis. Tanaman obat telah lama digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu alternatif pengobatan, baik untuk pencegahan ataupun penyembuhan suatu penyakit. Alpukat merupakan salah satu buah populer yang banyak diminati oleh masyarakat, bukan hanya rasanya saja, tetapi manfaatnya pun sangat banyak dalam dunia kesehatan, diantaranya:

1.      Menjaga kesehatan jantung

Alpukat adalah buah yang mengandung lemak tak jenuh yang bermanfaat secara positif untuk organ dalam tubuh, yaitu jantung. Karena itu, mengonsumsi buah alpukat secara rutin adalah salah satu pencegahan yang tepat untuk menghindari penyakit jantung.

2.      Menjaga kesehatan mata

Kandungan karotenoid Lutein yang terdapat didalam buah alpukat berfungsi untuk mencegah mata dari penyakit katarak dan menjaga kesehatan mata.

3.      Mencerahkan kulit

Secara ilmiah, didalam buah alpukat terdapat vitamin D dan vitamin E serta lemak omega 3 yang sangat baik untuk menjaga kesehatan kulit serta dapat dengan cepat meregenerasi kulit yang mati.

4.      Mencegah Diabetes

Alpukat merupakan salah satu jenis buah yang memiliki kandungan asam oleat yang mampu mencegah penyakit diabetes. Dan dengan kandungan lemak tak jenuh yang dimiliki oleh buah ini, alpukat mampu mengurangi kandungan trigliserida untuk mengontrol kadar gula dalam darah.

 

Selain manfaat yang terdapat didalam buah alpukat, daunnya pun tak kalah menarik, karena memiliki ragam manfaat. Kandungan zat aktif yang terdapat pada daun alpukat sangatlah banyak, salah satu diantaranya adalah flavonoid. Flavonoid dalam tubuh manusia berfungsi sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk mencegah kanker. Manfaat flavonoid antara lain adalah untuk melindungi struktur sel, meningkatkan efektivitas vitamin C, anti inflamasi, mencegah keropos tulang, dan sebagai antibiotik. Flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri dan virus. Cara konsumsi daun alpukat pun sangat mudah, yaitu dapat dijadikan suatu minuman dalam bentuk teh, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Irma, Herzegovina. Triyanto. 2020. Ragam Olahan Buah Alpukat Yang Sehat Dan Kaya Manfaat. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia.

Prihatman, Keman. 2000. Alpukat/Avokad (Persea americana Mill / Persea gratissima Gaerth). Jakarta : Penerbit Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Anggorowati, Ana, Dwi. Priandini, Gita. Thufail. (2016). Potensi Daun Alpukat (Persea Americana Miller) Sebagai Minuman Teh Herbal Yang Kaya Antioksidan. Jurnal Industri Inovatif Vol. 6 No. 1: 1-7. Malang: Prodi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional Malang.

Sari, Ambar, Mei. (2015). Aktivitas Antioksidan Teh Daun Alpukat (Persea Americana Mill) Dengan Variasi Teknik Dan Lama Pengeringan. Surakarta: Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas  Muhammadiyah Surakarta.

 

 

Sabtu, 16 Juli 2022

MENGENAL SELECTIVE EATING DISORDER (SED) DAN CARA MENGATASINYA


Apa Itu Selective Eating Disorder?


Terdapat beberapa gangguan perilaku makan atau dikenal juga dengan selective eating disorder yang kerap terjadi yakni Anoreksi nervosa, Bulimia Nervosa, dan Binge Eating Disorder. Anoreksia nervosa merupakan salah satu gangguan makan yang mengakibatkan seseorang terobsesi untuk memiliki tubuh kurus. Anoreksia nervosa yakni terganggunya pusat mafsu makan yang bertubuh kurus kering dan terlalu takut jika berat badannya bertambah serta tidak pernah puas terhadap bentuk tubuhnya. Penderita anoreksia nervosa membiarkan dirinya merasa lapar agar tetap terlihat memiliki tubuh langsing. Ciri-ciri gangguan anoreksia nervosa yakni mempunyai berat badan kurang dari 85% dibandingkan orang normal karena pembatasan makan berlebihan. Gejala utama anoreksia nervosa, yaitu usaha terlalu keras untuk menurunkan berat badan dan biasanya disebabkan oleh kurangnya kepedulian dan pengetahuan terhadap keseimbangan gizi pada tubuh. Orang-orang yang menderita hal ini kebanyakan dari kalangan remaja yang terobsesi kurus agar dianggap cantik dalam media massa. Kecenderungan perilaku anoreksia nervosa akan bertambah seiring dengan maraknya iklan-iklan di majalah atau media massa yang menampilkan model bertubuh kurus.

Salah satu gangguan makan lainnya yang kerap terjadi yakni Bulimia Nervosa, salah satu gangguan perilaku makan dengan mengontrol berat badan secara berlebihan yang ditandai dengan mengonsumsi makanan dalam porsi besar dan berulang yang kemudian dimuntahkan kembali, atau menggunakan obat pencahar, berpuasa, atau berolahraga secara berlebihan (National Institute of Mental Health (NIMH), 2007). Penderita bulimia nervosa sering membuat dirinya muntah, puasa, penggunaan laksatif, diuretik, enema, dan penggunaan obat pencahar.

Binge eating disorder merupakan penyimpangan perilaku makan dengan ciri-ciri penderitanya sering makan dalam jumlah besar dan merasa kesulitan untuk menahan dorongan makan. Setelah penderita makan, dia merasa bersalah, depresi, dan kesal karena perilaku makannya tersebut. Binge eating disorder berpotensi menimbulkan penyakit kembung, sembelit, obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi. Seseorang dikatakan menderita binge eating disorder jika gejala-gejala di atas muncul setidaknya 1 kali per minggu, dalam 3 bulan.


Bagaimana Prevalensi di Indonesia?

Prevalensi Anorexia Nervosa dan Bulimia Nervosa menurut The American Journal of Clinical Nutrition 2019 sebesar 7,8%. Lebih dari 5% anak perempuan memenuhi kriteria untuk anoreksia, bulimia, atau gangguan makan berlebihan.Lebih dari 13% anak perempuan pernah mengalami gangguan makan saat menyertakan gejala gangguan makan nonspesifik. Prevalensi penderita Binge Eating Disorder (BED) secara global adalah sebanyak 4%, yang diantaranya didapati 3,5% perempuandan 2% laki-laki. Sekitar 25% kasus BED terjadi pada individu dengan berat badan lebih (overweight). Prevalensi BED di Indonesia sekitar 1,6 juta dari total penduduk.


Apa saja Gejala- Gejala yang Dapat Terjadi?

Anorexia Nervosa

1.   Gejala yang predominan adalah ketakutan yang sangat akan kenaikan berat badan, sampai terjadi phobia terhadap makanan. Ketakutan terhadap makanan disertai dengan penyalahartian dari body image; banyak pasien merasa diri mereka sangat gendut, walaupun sebenarnya mereka sangat kurus.

2.  Banyak penderita anoreksia nervosa mempunyai obsessive compulsive behavior, misalnya mereka sering sekali mencuci tangan berulang-ulang, pasien cenderung kaku, dan perfeksionis yang mengarahkan pada diagnosis gangguan kepribadian, seperti narcissisme, atau riwayat gangguan kepribadian.

3.      Penyesuaian seksual yang buruk

4.  Penderita anoreksia nervosa biasanya menunjukan perilaku yang aneh tentang makanan, seperti menyembunyikan makanan, membawa makanan dalam kantong, saat makan mereka membuang makanan, memotong makanan menjadi potongan kecil-kecil.

5.       Gangguan tidur dan gangguan depresi pada umumnya.

6.       Muntah yang dipaksakan

7.       Biasanya aktifitas dan program olah raga yang berlebihan.


Bulimia Nervosa

Gangguan mood adalah sering pada pasien dengan BN. Kecemasan (anxiety) dan tegang (tension) sering dialami. Kebanyakan pasien dengan BN mengalami depresi ringan dana sesetengah mengalami gangguan mood dan perilaku yang serius seperti cobaan membunuh diri dan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.


Binge eating disorder

1.     Perilaku makanan Secretive, termasuk makan diam-diam (misalnya, makan sendirian atau di dalam mobil, bersembunyi pembungkus) dan mencuri, bersembunyi, atau penimbunan makanan.

2.    Gangguan dalam perilaku makan normal, termasuk makan sepanjang hari dengan tidak ada waktu makan direncanakan; melewatkan makan atau mengambil porsi kecil makanan saat makan teratur; terlibat dalam puasa sporadis atau diet berulang dan mengembangkan ritual makanan (misalnya, hanya makan makanan atau makanan kelompok tertentu (misalnya, bumbu), mengunyah berlebihan, tidak membiarkan makanan menyentuh).

3.   Dapat melibatkan pembatasan ekstrim dan kekakuan dengan makanan dan diet periodik dan/atau puasa.

4.    Memiliki periode yang tidak terkendali, impulsif, atau terus-menerus makan di luar titik perasaan tidak nyaman penuh, tetapi tidak membersihkan.

5.       Membuat jadwal gaya hidup atau ritual untuk membuat waktu untuk sesi pesta.


 

Apa Saja Faktor yang Dapat Mempengaruhi Terjadinya Gangguan Makan?

Seperti dalam berbagai psikopatologi lain, satu faktor tunggal tidak mungkin menjadi penyebabmgangguan makan. Menurut Davison dkk (2010) beberapa bidang penelitian dewasa ini-genetik, peran otak, tekanan sosiokultural untuk menjadi langsing, kepribadian, peran keluarga dan peran stress lingkungan-menunjukkan bahwa gangguan makan terjadi bila beberapa faktor yang berpengaruh terjadi dalam kehidupan seseorang. Beberapa para ahli menyatakan bahwa gangguan makan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah:

1.   Genetik, berdasarkan penelitian yang dilakukan pada kelompok kembar identik dan kembar yang tidak identik. Secara umum penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok kembar identic memiliki insiden mengalami gangguan makan yang lebih tinggi daripada mereka yang kembar identik. Diperkirakan hal ini terjadi karena kembar identik memiliki DNA yang sama (Wardlaw, 2002 dalam Syafiq dan Tantiani, 2013).

2.    Usia, WHO (2012) menyebutkan batasan usia remaja adalah 10-19 tahun. Pada masa remaja juga merupakan sebuah fase usia yang rentan untuk mengalami gangguan makan. Gangguan makan sering terjadi pada usia remaja dikarenakan jumlah stressor yang sangat fantastis yang dihadapi pada usia tersebut terutama pada remaja putri.

3.   Jenis Kelamin, penderita gangguan makan lebih banyak terjadi pada perempuan dimana 9 dari 10 penderita anorexia nervosa dan bulimia nervosa adalah perempuan. Kemungkinan hal tersebut terjadi karena lebih tingginya tuntutan masyarakat terhadap perempuan untuk menjadi kurus.Baru pada beberapa tahun belakangan ini pria penderita gangguan makan mulai mendapat perhatian.

4.    Pengetahuan, tingkat pengetahuan tentang kesehatan dan nilai kesehatan pribadi secara tidak langsung berpengaruh terhadap terjadinya gangguan makan. Pengetahuan tentang kesehatan yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi gaya hidup nya dan secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap perilaku makan seseorang tersebut.

5.    Rasa percaya diri, kepercayaan diri yang rendah dan perfeksionis akan menyebabkan seseorang melakukan tindakan yang mengarah pada gangguan makan. Gangguan makan akan meningkatkan rasa kerapuhan pada diri penderita sehingga akan menyebabkan makin turunnya rasa percaya diri dan meningkatnya keperfeksionisan penderita. Hal tersebut akan terus berulang dan menghasilkan suatu siklus yang terus-menerus terjadi.

6.  Citra tubuh, merupakan sebuah istilah yang mengacu kepada persepsi seseorang mengenai bentuk dan tampilan fisik tubuhnya. Penampilan fisik yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan remaja, dapat menyebabkan remaja tidak puas terhadap tubuhnya sendiri. Berbagai studi menemukan bahwa IMT tinggi dan ketidakpuasan dengan bentuk tubuh merupakan faktor risiko terjadinya gangguan makan.

7.    Riwayat Diet, diet merupakan salah satu faktor risiko terjadinya gangguan makan yang paling berisiko. Dalam studi case control yang dilakukan oleh Fairburn et al., (1999) dilaporkan bahwa riwayat diet berpengaruh terhadap terjadinya gangguan makan yang dilakukan pada 67 wanita dengan anorexia nervosa dan 102 wanita dengan bulimia nervosa. Hasil menunjukkan bahwa perilaku diet lebih berpengaruh terhadap kejadian bulimia nervosa dibandingkan anorexia nervosa.

8.   Pengaruh keluarga, pengaruh keluarga dan pendekatan orang tua kepada anak merupakan salah satu penyebab terjadinya gangguan makan. Dimana orang tua yang selalu menekan anak mereka agar memiliki bentuk tubuh yang sesuai dengan keinginan mereka dapat menjadi faktor risiko terjadinya gangguan makan pada anak tersebut.

9.   Pengaruh teman sebaya, gaya hidup dan pola pikir remaja sangat dipegaruhi oleh teman sebaya nya. Namun ketidaksamaan dengan teman dalam berbagai hal termasuk perbedaan fisik dikhawatirkan menyebabkan dirinya terkucil dan merusak percaya diri.

10. Bullying, Fairburn (1998) menyebutkan bahwa remaja perempuan yang pernah mengalami bullying oleh teman sebayanya berisiko 5,5 kali untuk menderita gangguan makan dibandingkan dengan remaja yang tidak pernah mengalami bullying oleh teman sebayanya.

 

Lalu, Bagaimana Upaya Preventif atau Pencegahan yang dapat Dilakukan?


1.     Psikoedukasi, merupakan suatu bentuk intervensi yang dapat dilakukan pada individu, keluarga, dan kelompok atau komunitas yang fokus pada  mendidik partisipannya mengenai tantangan yang signifikan dalam kehidupan, membantu partisipan mengembangkan sumber-sumber dukungan dan dukungan sosial dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut, serta mengembangkan keterampilan-keterampilan individu dalam menghadapi atau mengatasi permasalahannya (Walsh, 2010).

2.   Mendefinisikan kembali terkait standar penampilan ideal, pada hal ini kita bisa memberitahukan kepada penderita bahwa mereka tidak harus mengikuti penampilan dari para idolanya. Kita juga harus menyampaikan bahwasanya mereka tidak boleh membandingkan antara tubuh dia dengan orang lain, yang artinya mereka harus mencintai diri sendiri. Hal ini akan membentuk persepsi positif pada bentuk tubuh dia dan mencegah terjadinya eating disorder.

3.   Memberikan motivasi untuk melakukan rutinitas olahraga, untuk mendapatkan tubuh yang lebih segar bugar maka selain kita harus mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, kita juga harus mendukungnya dengan melakukan aktifitas olahraga yang teratur. Anak-anak pada masa sekarang sering menganggap bahwa tujuan utama dari melakukan olahraga yaitu untuk membuat badan menjadi lebih ramping. Akan tetapi, kita harus memberikan pengertian bahwasanya olahraga merupakan sebuah aktifitas yang dilakukan untuk menjaga stamina tubuh. Maka dari itu, mereka akan terhindar dari rasa insecure terhadap bentuk tubuhnya dan dapat mencegah terjadinya eating disorder.

4.    Mengurangi stres dan meningkatkan rasa percaya diri, psikologis merupakan salah satu penyebab munculnya eating disorder. Hal ini di dorong dengan beberapa hal yaitu ketidakmampuan penderita untuk melihat dirinya secara positif, serta tidak mampu menerima pendapat orang lain mengenai dirinya. Untuk itu, kita dapat mencegah nya dengan mengurangi stress nya serta meningkatkan rasa percaya pada dirinya sendiri.







DAFTAR PUSTAKA

Azzahara, N. F., & Dhanny, D. R. (2021). Hubungan Psikososial dan Status Gizi pada Remaja Wanita dengan Anoreksia Nervosa. Muhammadiyah Journal of Midwifery, 1-9.

Bella, A. (2022, Januari 26). Binge Eating Disorder: Tanda-Tanda, Penyebab, dan Penanganan. Diambil kembali dari ALODOKTER: https://www.alodokter.com/binge-eating-disorder-tanda-tanda-penyebab-dan-penanganan

Eko Praptomo, P. (2009, Juli 1). Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan Kecenderungan Anoreksia Nervosa Pada Model. Diambil kembali dari Universitas Muhammadiyah Surakarta Institutional Repository: http://eprints.ums.ac.id/5982/

Krisniani, H., Santoso, M. B., & Putri, D. (2017). Gangguan Makan Anorexia Nervosa dan Bulimia Nervosa Pada Remaja. Prosiding Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat, 399-407.

Nasution, S. W., Hasibuan, N. A., & Ramadhani, P. (2017). Sistem Pakar Diagnosa Anoreksia Nervosa Menerapkan Metode Case Based Reasoning. KOMIK (Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komputer), 52-56.

Sharin, T. R. (2021). Waspada Eating Disorder pada Remaja dan Ketahui Cara Mencegahnya. Lovelife daily.

Walsh, J. (2010). Psychoeducation in Mental Health. Chicago: Lyceum books, Inc.

Kamis, 23 Juni 2022

KEISTIMEWAAN KURMA

 


            Kurma Itu Apa Sih?

Kurma (Phoenix dactylifera) tanaman palma (Arecaceae), buahnya dapat dimakan, dan merupakan sumber makanan yang penting di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara. Kurma mengandung karbohidrat yang tinggi sekitar 77,34 - 84,45%, tergantung varietas (Al-Farsi et al., 2007), dan beberapa mineral penting seperti besi, kalium, kalsium, magnesium, mangan, natrium, tembaga, dan seng (Chaira et al.,2007). Buah kurma kaya dengan zat antioksidan yang dapat membantu dalam menurunkan resiko kanker dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh (Yasin et al., 2015).

            Apa Keistimewaan Kurma?

Kurma mendapat posisi istimewa di hati para muslimin. Kurma dianggap sebagai makanan yang baik juga dinasihatkan dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW. dalam banyak hadis, Nabi Muhammad SAW. menobatkan buah kurma sebagai makanan pembuka puasa dan makanan yang banyak khasiatnyanya (Satuha, 2014).

            Rasulullah SAW. bersabda yang artinya: “Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir” (HR. Muslim).

            Apa Saja Manfaat dari Kurma?

Manfaat dan khasiat kurma ditinjau dari sudut pandang medis menguatkan khabar Al-Qur’an Al-Karim dan Al-Sunnah Al-Shahihah tentang khasiat dan keutamaan kurma. Berikut manfaat kurma yang berfungsi untuk menguatkan sel-sel usus dan dapat membantu melancarkan saluran kencing karena mengandung serabut-serabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus dan menguatkan rahim terutama ketika melahirkan. Ternyata hampir semua dari kurma boleh diambil manfaat bermula dari pangkal hingga batang. Kurma dapat menjadi obat untuk berbagai penyakit karena nilai gizi, mineral, zat besi, dan lain-lain yang terdapat di dalamnya merangkumi semua kebutuhan badan. Kemukjizatan Al-Qur’an yang menerangkan kepada kita akan betapa baiknya kurma itu sesuai dengan kandungan yang diperolehi darinya (Syamil, 2013).

            Menurut Najamuddin dalam bukunya “Mukjizat Makanan & Minuman Kesukaan Rasulullah,” setelah diteliti lebih jauh ihwal kurma tersebut, ternyata jumlah tujuh kurma itu, bila ditimbang, memiliki berat sekitar 100 gram. Dalam 100 gram kurma tersebut, terkandung beberapa zat, yaitu:

1. Gula: 75,00 gram

2. Serat selulosa: 4,00 gram

3. Air: 22,50 gram

4. Protein: 2,50 gram

5. Lemak : 2,50 gram

6. Vitamin A : 60 IU

7. Vitamin B-1 : 0,08 miligram

8. Vitamin B-2 : 0,05 miligram

Kurma dapat menyembuhkan dan mencegah beberapa penyakit, diantaranya yaitu:

·       Mencegah struk dan serangan jantung. Biji kurma adalah asam salisilat yang pada umumnya digunakan sebagai bahan baku aspirin. Asam salisilat ini berguna untuk mencegah proses terjadinya pembekuan darah.

·       Mempercepat penyembuhan demam berdarah.

·       Mencegah pendarahan rahim. Kurma juga dapat mencegah pendarahan rahim sebab kurma mengandung nikotinat dan hormon potuchasin.

·       Membuat otak menjadi encer dan menyuplai kebutuhan energi saat berpuasa. Vitamin A dalam kurma dapat menyuplai bahan-bahan yang diperlukan oleh otak. Seperti yang telah disebutkan oleh ibnu Qayyim, “Sesungguhnya tamar  rutab dapat menambahkan kecerdasan terutama jika dimakan dengan biji buah cemara.”

·       Melindungi kulit dari infeksi. Kurma juga bermanfaat untuk melindungi kesehatan kulit. Kurma mengandung Vitamin B6 dan protein yang dapat   berfungsi mencegah dermatitis dan membuat warna kulit kelihatan lebih segar.

 


DAFTAR PUSTAKA

Al-Farsi, M., Alasalvar, C., Al-Abid, M.,Al-Shoaily, K., Al-Amry, M., & AlRawahy, F. (2007). Compositional and functional characteristics of dates, syrups, and their by-products. Food Chemistry, 104(3), 943–947.

Chaira, N., Ferchichi, A., Mrabet, A., & Sghairoun, M. (2007). Chemical composition of the flesh and the pit of date palm fruit and radical scavenging activity of their extracts.

Satuha, S. (2014). Hadis Kurma. In Universitas Islam Negri Sunan Djati Bandung.

Yasin, B. R., El-Fawal, H. A. N., & Mousa,S. A. (2015). Date (Phoenix dactylifera) polyphenolics and other bioactive compounds: A traditional islamic remedy’s potential in prevention of cell damage, cancer therapeutics and beyond. International Journal     of Molecular Sciences, 16(12), 30075–30090.  

Syamil, A. (2013). Keistimewaan Kurma dalam Al-Qur’an Ditinjau dari Perspektif Ilmu Kesehatan, Skripsi.