Jumat, 08 Juni 2018

SAY YES TO "MICIN"?

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 
Photo by Google
Seperti yang kalian ketahui saat ini, MSG menjadi salah satu bahan yang paling umum digunakan dalam memasak. Banyak orang awam yang menganggap micin atau MSG itu berbahaya bila dikonsumsi, apalagi pada anak anak. Tetapi apakah itu benar? Makan micin bisa bikin bodoh, apakah itu benar? Apa kaitannya dengan kids jaman now yang banyak disebut-sebut sebagai generasi micin?
Micin atau monosodium glutamat (MSG) adalah garam natrium asam glutamat yang ditemukan oleh Kikunae Ikeda, seorang profesor kimia Universitas Tokyo, pada 1908. Ia dianggap sebagai garam paling stabil yang mampu memberi rasa umami atau gurih pada makanan.

Glutamat yang merupakan bahan ajaib dari MSG sebetulnya adalah asam amino umum yang terjadi secara alami di berbagai macam makanan, seperti tomat, keju, permesan, jamur kering, kecap, buah dan sayur, bahkan ASI.
Asam glutamat yang ada di micin juga terdapat di sumber makanan lain yang kita santap sehari-hari. Tahukah Anda kalau asam glutamat terbanyak ada di air susu ibu (ASI) ?
"Kalau enggak boleh makan micin atau glutamat, berarti seorang bayi tidak boleh minum ASI, dong? Itu sama saja melanggar hak asasi manusia," kata Ahmad.
Micin, pada penelitian yang pernah dilakukan FEMA IPB, baik untuk meningkatkan nafsu makan pasien yang sedang sakit. Menurut Ahmad, secara tidak langsung micin, vetsin, atau MSG ini membantu memunculkan nafsu makan orang-orang yang kurang beruntung atau mereka yang berada di pedalaman. Untuk mendapatkan lauk saja susah, yang tersisa hanya nasi putih dan kerupuk.
Tetapi, apakah kalian pernah berfikir bahwa orang luar terutama orang china yang banyak mengkonsumsi micin sebagai bumbu dasar masakan sehari hari malah terbukti mereka lebih berkembang? Dan jika micin berbahaya bagi manusia, mengapa sampai sekarang micin masih beredar dikalangan masyarakat?
Sebagai permulaan, contohnya para ahli menolak istilah sindrom restoran China. Sindrome restoran china adalah gejala berupa nyeri kepala, kulit yang kemerahan, dan berkeringat setelah makan dari restoran china. Statement tersebut dianggap merendahkan dan tidak memikirkan dengan luas sifat gejalanya. Namun, hal ini belum dapat dibuktikan. Jika merasa sakit setelah mengkonsumsi makanan China, atau makanan lain yang mengandung MSG, anda kemungkinan memiliki sensitivitas tinggi terhadap MSG. Perlu diingat, bahwa makanan alami pun mungkin saja mengandung glutamat alami dalam kadar yang tinggi. Sebaliknya, mereka lebih memilih menggunakan istilah sindrom gejala MSG kompleks untuk menggambarkan beragam gejala yang berkaitan dengan konsumsi MSG.
Salah satu eksperimen lain yang paling terkenal adalah oleh peneliti Universitas Washington, Dr John W Olney, yang menemukan bahwa suntikan dosis MSG yang sangat besar di bawah kulit tikus yang baru lahir menyebabkan berkembangnya jaringan mati di otak. Akibatnya saat tikus tumbuh dewasa, mereka menjadi kerdil, gemuk, dan beberapa di antaranya ada yang mandul.

Mereka kemudian menyimpulkan bahwa ada cukup bukti ilmiah untuk menunjukkan keberadaaan kelompok individu tertentu yang memiliki respons jelek terhadap MSG dalam dosis besar. Reaksi ini biasanya muncul dalam waktu satu jam.
Akan tetapi, MSG dalam eksperimen tersebut diberikan dalam bentuk larutan dengan kadar tiga gram tanpa makanan. Padahal, kebanyakan orang mengonsumsi MSG dengan kadar 0,55 gram per hari lewat makanan.
Namun, ketika mereka diuji dengan MSG dalam makanan, reaksi ini justru menjadi tidak konsisten dan menimbulkan keraguan pada validitas sensitivitas MSG. Melihat penelitian-penelitian di atas, FDA pun mengategorikan MSG sebagai GRAS (Generally Recognised As Safe) atau umumnya diakui aman.
Akan tetapi, jika kita terlalu banyak mengkonsumsi micin juga tidak baik bagi tubuh kita. Jika micin dikonsumsi dalam jangka yang lama, dapat berakibat bagi kesehatan tubuh seperti nyeri sendi, kaku kaku, detak jantung tidak teratur, sariawan, dan kanker.
Maka dari itu, ada baiknya kita menahan diri untuk tidak langsung menyalahkan micin ketika melihat perilaku orang-orang zaman sekarang yang tidak logis. Meski demikian, tidak ada yang benar-benar pasti dalam dunia sains. Penelitian lebih lanjut mengenai MSG tentu akan selalu bermunculan untuk benar-benar memastikan keamanannya.


Artikel Oleh Ihda Hanifatun Nisa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar